Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Musim Kemarau

Penderitaan Warga Semarang Harus Berbagi Air

Saat ini kondisi sendang sedang menyusut. Saya ngangsu ke sendang seminggu sekali karena harus berbagi dengan semua warga

SEMARANG, TRIBUNJATENG.COM - Kemarau panjang menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Atun, warga Kampung Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, misalnya, harus mengambil air ke Sendang Gayam untuk mendapatkan air bersih.

"Saat ini kondisi sendang sedang menyusut. Saya ngangsu ke sendang seminggu sekali karena harus berbagi dengan semua warga. Itu cukup untuk minum dan memasak," ujar Atun kepada Tribun Jateng, Minggu (18/10).

Untuk keperluan mandi dan lain, Atun harus ngangsu ke sumur warga di kampung lain yang hanya dijatah dua jeriken. "Saya juga masih beli air lagi Rp 7 ribu dapat empat jeriken. Kami berharap ada sumur atau saluran PDAM sampai ke sini," ujarnya.

Kondisi serupa juga dirasakan Wahyu, warga Pakintelan, Gunungpati. Kemarau panjang membuatnya mengungsi mandi ketika air yang dikelola Karang Taruna setempat tidak mengalir.

Wahyu mengatakan, wilayah Pakintelan belum teraliri air dari PDAM sehingga kebutuhan air dipenuhi sumur artesis atau sumur air bawah tanah (ABT). Namun kemarau panjang suplai air berkurang dan mulai mengalir tengah malam.

"Biasanya baru mengalir pukul 23.00 atau 24.00 sampai subuh. Tapi sekarang ini kadang nggak mengalir selama dua hari. Saya harus mengungsi mandi ke tempat kakak di daerah Dewi Sartika, sekitar setengah jam dari rumah," ujarnya.

Suplai air dari satu sumber, kata Wahyu, harus melayani puluhan kepala keluarga dalam satu RT. Hal ini membuat warga berebut air.

"Pernah kran saya tiba-tiba tertutup, ada yang sabotase sehingga nggak mengalir. Saya akhirnya harus mengungsi mandi. Kalau saluran saya tertutup kan mengalir ke saluran lain,” ujarnya.

Wahyu mengatakan kemarau panjang membuat pengeluarannya membengkak dua kali lipat. "Biasanya Rp 20 ribu sekarang menjadi sekitar Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu per bulan. Karena juga harus beli air untuk menyiram tanaman dan halaman," ujarnya.

Penambahan sumur artesis dan keberadaan saluran PDAM, kata Wahyu, sangat dibutuhkan agar kebutuhan air bisa terpenuhi. "Kebutuhan sumur artesis dan saluran PDAM dua-duanya dibutuhkan. Kalau salah satu sumber air pasokan minim, bisa dipasok PDAM. Saya yang penting air selalu ada meski harus bayar sedikit mahal,” ujarnya.

Harus berizin

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Wiwin Subiono mengatakan pihaknya telah menyetujui dan menganggarkan pembuatan 20 titik sumur artesis di APBD perubahan di sejumlah wilayah Semarang bagian atas di antaranya Gunungpati, Ngaliyan, Tembalang, dan Mijen. Satu titik dianggarkan Rp 190 juta.

Namun dengan berbagai pertimbangan, pihak Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA ESDM) Kota Semarang membatalkan pembangunan sumur artesis tersebut.

"Saya sangat menyayangkan dengan adanya pembatalan pembangunan 20 titik sumur artesis. Sebenarnya pemberian bantuan sumur artesis dalam bentuk hibah ini bisa membantu warga yang tidak teraliri PDAM terutama saat musim kemarau panjang saat ini. Dan ini tidak melanggar aturan karena masyarakat hanya diminta menghibahkan tanah yang jadi lokasi sumber air ke pemerintah. Kemudian pemerintah yang membangun. Agak berat bagi masyarakat jika harus membangun (sumur artesis) sendiri karena biaya yang mahal," ujarnya.

Wiwin mengatakan, pihaknya pernah konsultasi ke Badan Geologi Bandung bahwa tidak ada kaitannya sumur artesis dengan sumur pantai.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved