Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Lebih Dekat dengan Pesawat T-50i Golden Eagle

T-50i Golden Eagle merupakan pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries dengan bantuan Lockheed Mart

Tayang:
Muhammad Iqbal
Pesawat T-50i Golden Eagle registrasi TT-5007 difoto oleh Muhammad Iqbal pada Senin (17/8/2015). Pesawat mengalami kecelakaan pada Minggu (20/12/2015) di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Jatuhnya pesawat tempur latih T-50i Golden Eagle alias Si Elang Emas di Yogya menjadi insiden ketiga bagi pesawat buatan Korea Aerospace Industries tersebut. Dua kecelakaan pada pesawat yang terbang perdana pada 2002 ini terjadi di Korea Selatan.

Golden Eagle pertama yang kecelakaan adalah varian akrobatik T-50B yang menabrak gunung di Hoengseong pada 15 November 2012. Saat itu pesawat tengah dipakai berlatih oleh Kapten Kim Wan-hee dari tim akrobatik angkatan udara Korea, Black Eagles.

Kapten Kim tewas dalam kecelakaan tersebut. Penyelidikan menyebutkan jet latih itu kecelakaan akibat kesalahan manusia, yakni kru perawatan yang lupa mencabut kabel perbaikan sehingga sistem yang mengontrol gerak vertikal pesawat tidak berfungsi.

Insiden kedua terjadi dekat pangkalan udara di Gwangju pada 28 Agustus 2013. Jatuhnya Golden Eagle ini menewaskan kedua penumpangnya, Mayor Noh Se-gwon dan Kapten Chung Jin-gyu.

Ketika itu angkatan udara Korea Selatan dalam siaran persnya menyebut penyelidikan terhadap rekaman data dan percakapan penerbangan menunjukkan tak ada masalah pada mesin, kokpit, dan sistem kursi pelontar.

Siaran pers ini juga menyebut instruktur penerbangan latih ini ditemukan tewas di dalam pesawat, sedangkan pilot meninggal akibat luka yang diderita setelah memakai kursi pelontar. "Meski pilot memakai kursi pelontar, dia tidak selamat karena ketinggian pesawat terlalu rendah."

Sementara itu kecelakaan ketiga di Yogyakarta menewaskan dua perwira TNI AU, yakni Letkol Marda Sarjono dan Kapten Dwi Cahyadi. Hingga kini TNI AU masih menyelidiki penyebab kecelakaan.

“Tim investigasi diketuai langsung oleh Wakil KSAU," ujar Kadispen TNI AU Marsma Dwi Badarmanto di gedung Suma III, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (20/12).

T-50i Golden Eagle merupakan pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries dengan bantuan Lockheed Martin. Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian pesawat serang ringan.

Ada 16 pesawat yang didatangkan Indonesia pada tahun 2013. Sebagian berwarna biru kuning khas tim aerobatik legendaris TNI AU "Elang Biru". Delapan sisanya berwarna kamuflase hijau sehingga bisa digunakan untuk misi tempur.

Pesawat T-50i ini mengandalkan tenaga dari mesin General Electric F404-GE 102 dengan daya dorong 1.770 pon dan after burner 11.000 pounds dengan tenaga mil power. Pesawat dengan panjang 43 kaki, lebar sayap 31 kaki dan tinggi 16 kaki ini memiliki kecepatan maksimal 1.5x kecepatan suara atau 1.600 kilometer perjam dengan berat sekitar 14 ton.

T50i Golden Eagle bisa terbang dengan ketinggian 55.00 kaki seperti pesawat tempur F16 buatan Amerika Serikat. Kapasitas persenjataan 5 ton dan dilengkapi dengan kanon gatling internal tiga laras General Dynamics 20mm. Dengan spesifikasi ini, pesawat tempur T-50i mampu menyemburkan 2.000 peluru per menit.

Belum Familiar

Pakar penerbangan Arista Admadjati menyebut terdapat tiga hal yang bisa menyebabkan sebuah pesawat terjatuh, yakni faktor cuaca, mesin, dan human error. “Jika kita bicara soal cuaca pagi tadi (kemarin) di Yogya, cuacanya cerah. Jadi jatuhnya pesawat bisa dipastikan bukan karena cuaca buruk yang terjadi di langit Yogyakarta,” katanya, Minggu.

Kalau bicara masalah pilot dan mesin, Arista tidak bisa memastikan. Menurutnya butuh waktu untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut sehingga terungkap penyebab kecelakaan yang sebenarnya.

“Tapi memang, kalau untuk melakukan air show semacam itu, memiliki risiko yang tinggi. Bisa kita lihat sendiri ketika air show, pesawat tempur tersebut melakukan manuver berbahaya dan tak lazim. Apalagi itu dilakukan oleh pesawat tempur yang memiliki kecepatan tinggi dan melakukan penerbangan rendah. Pilot benar-benar harus mematangkan akurasinya,” tandasnya.

Menurutnya, perlu diketahui juga bahwa pesawat tempur TNI AU, T50i Golden Eagle tersebut relatif baru di dunia militer Indonesia, jadi masih belum terlalu familiar. “Bisa jadi karena tergolong sebagai pesawat baru, berpengaruh terhadap para pilotnya,” katanya.

Pengamat penerbangan lainnya, Alvin Lie menyatakan, ada banyak faktor dalam kecelakaan tersebut. "Saya lihat videonya tadi saat vertikal naik ke atas kelihatan bagus. Pas turun sepertinya gagal recovery. Itu terjadi sepersekian detik," katanya.

Dalam manuver yang berbahaya dan waktu yang singkat seperti itu banyak faktor yang bisa menyebabkan kecelakaan. Bahkan pilot dan kopilot sendiri tidak sempat menyelamatkan diri hingga gugur saat pesawat jatuh. "Kemungkinan bisa sistem kendali, bisa engine. Kita tidak bisa spekulasi. Kita harus benar-benar investigasi," ungkap Alvin.

Selain itu, menurut Alvin, para penerbang yang melakukan akrobat udara bukanlah penerbang sembarangan dan tidak semua pilot bisa melakukan manuver dalam akrobat udara. "Perlu penerbang andal, senior, fasih. Kenal cuaca. Kenal pesawat. Dan saat itu cuaca cerah. Kita belum tahu apa yang tidak beres," ujar Alvin. (tribun jogja/berbagai sumber)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved