Ajarkan Toleransi mulai Dalam Keluarga, Begini Strateginya
Ajarkan Toleransi mulai Dalam Keluarga, Begini Strateginya
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Hidup dalam negara yang penuh keragaman, baik dari suku, agama, maupun budaya memerlukan sikap toleransi. Anak akan menemui beragam perbedaan, baik di lingkungan atau dalam keluarga. Seperti yang dialami Marni.
Dia membesarkan tiga buah hati dalam keluarga besar yang berbeda agama maupun cara berpikirnya. "Sejak anak-anak masih balita, saya sudah ajarkan adanya perbedaan, mulai hal kecil sampai yang kompleks," beber Marni.
Istri Franky Yulianto ini rutin mengajak buah hati mudik ke kampung halaman saat Idul Fitri. Mereka juga ikut tradisi sungkeman dan makan opor ayam yang merupakan menu khas Lebaran. "Meski kami nonmuslim tetapi kami terus mengingatkan pada anak-anak agar tidak membeda-bedakan, baik suku, agama atau latarbelakang," jelas Marni.
Tidak hanya di lingkungan, menurutnya, sikap saling menghargai juga harus diterapkan dalam keluarga. Dia tidak menampik bila ketiga anaknya sering bertengkar bila berbeda pendapat. Disitulah, Marni mengatakan, peran orangtua menjembatani perbedaan bisa menjadi teladan. "Saya selalu katakan, sebagai kakak harus mengalah. Pelan-pelan pasti akan sadar," imbuh Marni.
Hal yang sama dilakukan Angelina Kusuma yang rajin mendapat pertanyaan dari putri pertama, Adeeva Myesha Angel (5). Angel paham, rasa ingin tahu si kecil sangat besar, terutama bila menemukan hal berbeda. Secara polos, kadang, Myesha bertanya mengapa orang lain berbeda dari dia. "Saat Myesha tanya itulah saya beri penjelasan tentang perbedaan serta tidak lupa saling menghargai juga toleransi," ucap Angel.
Dia juga mengajarkan agar tidak membeda-bedakan teman. Angel tidak sungkan mengajak buah hati berbagi tanpa melihat agama, jenis kulit, bentuk wajah, kaya atau miskin. "Saat saya buat roti, kadang saya bagi-bagikan ke tetangga. Nah, yang ngantar Myesha. Secara, tidak langsung itu mengajari anak toleransi," terang wanita yang tinggal di Perum Bukit Beringin Asri ini.
Imbangi dalam Berpendirian
Tak mudah mengajarkan toleransi pada anak. Meski begitu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus ditanamkan sejak kecil. Dosen Fakultas Psikologi Undip bidang Perkembangan Dinie Ratri Desiningrum SPsi MSi memberi beberapa tips yang bisa diterapkan. Di antaranya:
1.Orangtua harus berwawasan luas seputar keragaman, apapun itu, baik di lingkungan tempat tinggal terlebih di Indonesia. Perbedaan tersebut harus dikenalkan pada anak sejak dini.
2. Orangtua juga harus memahami karakter dan perkembangan anak. Sebab, pada tahap tertentu anak mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda. Misal, saat anak masuk sekolah, tentu keragaman yang dijelaskan lebih variatif. Anak harus memahami dan menghargai orang lain dengan tetap menjadi diri sendiri.
3. Ajarkan anak mengenal keberagaman di Indonesia agar buah hati paham bahwa di sekitar banyak yang berbeda, baik cara berpikir, logat juga kulit.
4. Ajari anak bertahan. Toleransi yang berlebihan bisa membuat anak larut dalam lingkungan. Anak akan menjadi follower. Harus ditekankan bahwa perbedaan itu hal yang wajar, jangan ikut campur atau mengganggu.
5. Orangtua harus memberikan teladan yang baik. Berikan contoh kecil dalam keluarga dan bertetangga. Sikap menghargai agar anak tidak berfikir orangtua hanya bisa omong saja. (tribunjateng/dini suciatiningrum)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ajarkan-toleransi-mulai-dari-keluarga_20160103_102626.jpg)