Success Story
Pengusaha Istana Mie dan Es Sebut Tampilan Makanan dan Minuman Sebagai Satu Kunci Suksesnya
Kami ingin memberi kesan, beragam mi dan es ada di sini. Dan, kami juga menyediakan jenis makanan lain..
Penulis: hermawan Endra | Editor: a prianggoro
TRIBUNJATENG.COM- Penerapan strategi yang matang menjadi kunci sukses Aris Suliatono menjalankan bisnis kuliner.
Berbekal keahlian membuat mi warisan keluarga, ia berhasil membangun usaha berbendera Istana Mie & Es yang kini memiliki 30 cabang, tersebar di Pulau Jawa.
Bagaimana kisah perjalanan usahanya? Berikut penuturan Aris Suliatono HR kepada wartawan Tribun Jateng, Hermawan Endra Wijonarko, beberapa waktu lalu.
Bagaimana Istana Mie & Es lahir?
Istana Mie & Es berdiri 23 Februari 2006 di Mal Ciputra Semarang. Ini merupakan bisnis bersama, antara keluarga Aris dan Handojo, ayah dari istri saya. Usaha berbahan dasar mi sebenarnya sudah ditekuni keluarga saya. Melihat dari segi pasar bisa besar, kami mengembangkan lewat Istana Mie & Es.
Filosofi brand tersebut didasarkan pada pengertian istana menggambarkan keragaman. Kami ingin memberi kesan, beragam mi dan es ada di sini. Dan, kami juga menyediakan jenis makanan lain.
Bagaimana penerimaan konsumen di awal pembukaan?
Usaha ini langsung mendapat sambutan baik dari masyarakat. Bahkan, pernah kejadian, konsumen ingin masuk meski pintu toko baru dibuka setengah.
Antusiasme pengunjung yang cukup tinggi itu menurut saya karena tampilan makanan dan minuman yang kami tawarkan sangat menarik, proses penyajian cepat, harga tidak mahal dan rasa yang enak. Sehingga, bisnis ini cepat berkembang dan mudah menarik konsumen.
Kenapa memilih mal sebagai tempat membuka usaha pertama?
Ada beberapa kemudahan. Di mal, trafik pengunjung sudah bisa didapat. Selain itu, fasilitas penunjang juga bisa diperoleh. Semisal, tempat parkir, AC, hingga jam operasional.
Berbeda jika membuka usaha di luar pusat perbelanjaan. Pengunjung hanya datang di jam-jam tertentu, misalnya saat makan siang atau jam makan malam.
Sedangkan di mal, pengunjung yang datang sepanjang waktu. Mungkin, niat awalnya jalan-jalan tapi disela-sela itu mereka kemungkinan akan mampir. Entah sambil menunggu anak bermain atau lapar setelah hangout.

Bagaimana mengatur urusan cita rasa makanan?
Awalnya, yang bertugas memasak berasal dari keluarga. Kemudian, karena berkembang, kami menambah tenaga memasak.
Sebelum ditempatkan di cabang-cabang, kami latih dulu chef terpilih agar rasa yang disuguhkan sesuai standar kami.
Bukan hanya itu, semua bahan menu kami produksi secara mandiri di depo selanjutnya disalurkan ke outlet-outlet agar memiliki cita rasa sama. Kalau hanya mengandalkan koki, rasa makanan di masing-masing cabang pasti berbeda.
Ada kendala dalam pengadaan bahan baku?
Sejauh ini tidak ada kendala karena kami bisa menjaga hubungan baik dengan suplier yang sejak awal mendukung kami.
Semua bahan baku yang kami gunakan juga mudah diperoleh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/foto-owner-istana-mie-dan-es_20160201_154206.jpg)