Wisata Heritage di Pecinan Semarang
Kota Seribu Kelenteng Ini Dulunya Dijuluki Kota Mati
Tak heran Semarang disebut juga sebagai Kota Seribu Kelenteng.Kelenteng tersebut di antaranya Tay Kak Sie dan Kong Tike Soe yang berada di Gang Lombok
Penulis: rival al manaf | Editor: rustam aji
"Ada warga sekitar yang kami bekali dengan pelatihan hospitality untuk memandu wisatawan yang datang. Jika dibutuhkan, mereka siap menjadi guide keliling kawasan Pecinan," ujar Dharmadi, sekretaris Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis).

Gereja Kebondalem di kawasan Pecinan Kota Semarang. (M Syofri Kurniawan/tribun jateng)
Kopi Semawis merupakan komunitas yang mengelola dan menangani revitalisasi kawasan Pecinan. Mereka juga memacu masyarakat untuk merawat benda cagar budaya yang ada. "Kami disini sebagai fasilitator, pelakunya tetap masyarakat Pecinan," tegas Dharmadi.
"Kota Mati" sempat menjadi julukan Pecinan di Semarang. Kerusuhan 1998 yang menandai reformasi Indonesia dan mengusung isu rasial menjadi penyebabnya.
Saat itu, menjelang senja, jalan dan sudut-sudut di kawasan pecinan mulai lengang. Ketakutan warga akan terulangnya kerusuhan yang pernah terjadi membuat mereka tak banyak beraktivitas malam. Bahkan, tak sedikit yang memilih hijrah ke daerah lain di Semarang, yang dirasa lebih netral.

Rumah Indies di kawasan Pecinan Kota Semarang. (m syofri kurniawan/tribun jateng)
“Menjelang magrib, semua rumah tutup rapat. Ujung-ujung jalan penghubung dengan kawasan luar (Pecinan) diportal. Suasana malam di sini selalu mencekam, seperti kota mati,” ungkap Dharmadi, sekretaris Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis).
Satu-satunya kegiatan malam di kawasan Pecinan kala itu adalah perayaan malam Ji Kao Meh, yakni malam dimana warga Tionghoa belanja kebutuhan untuk perayaan Imlek. Beberapa kali pelaksanaannya aman dan pemerintah mulai memberi ruang serta jaminan perlindungan, warga menjadikan Ji Kao Meh sebagai titik revitalisasi kawasan Pecinan.
“Kami melihat, malam Ji Kao Meh bukan hanya ajang bertemunya penjual dan pembeli untuk mempersiapkan keperluan Imlek namun di sana ada reuni. Ada interaksi menjodohkan anak, para remaja juga saling melirik dan yang paling utama, ada saling bertegur sapa. Interaksi inilah yang menurut kami bisa menghidupkan lagi kawasan Pecinan,” terangnya.
Pemikiran menggelar kegiatan yang bisa mempertemukan lebih lama warga Pecinan pun muncul. Mereka menyelenggarakan Pasar Imlek Semawis. Pasar malam ini digelar sepekan penuh sebelum Tahun Baru Imlek datang.

Kelenteng See Hio Kiong. (m syofri kurniawan/tribun jateng)
Sukses dua kali digelar, dibawah kepemimpinan Haryanto Halim, Kopi Semawis meningkatkan intensitasnya menjadi sepekan sekali. Pasar Imlek Semawis pun berubah nama menjadi Waroeng Semawis. "Kami ingin, Pecinan menjadi kawasan yang bisa dinikmati banyak orang sekaligus pusat wisata kuliner khas Semarang," ujarnya.
Kini, Waroeng Semawis yang digelar setiap Jumat-Minggu pukul 18.00-24.00 tak pernah sepi pengunjung. Pusat kuliner di Gang Warung ini menyuguhkan beragam kuliner lokal Semarang dan oriental. Namun, ada pula yang menjual aksesoris serta menyediakan hiburan karaoke.
Ke Pecinan Bisa Diakses dari Tiga Jalan Protokol
Menikmati kawasan Pecinan bisa dilakukan sambil naik becak. Alat transportasi ini paling memungkinkan menjangkau hingga sudut-sudut gang sempit.
Setidaknya, ada tiga jalan utama yang bisa membawa Anda ke kawasan Pecinan Semarang.
1. Anda yang dari arah utara bisa mengarahkan kendaraan ke Jalan KH Agus Salim dan berbelok ke Jalan Pekojan. Anda pun akan masuk kawasan Pecinan melalui Gang Pinggir.
2. Dari selatan sisi timur, Pecinan bisa diakses lewat Jalan Ki Mangunsarkoro yang langsung terhubung dengan Gang Pinggir.
3. Dari arah barat, Anda bisa mengarahkan kendaraan lewat Jalan Gajahmada dan belok ke Jalan Kranggan. Selanjutnya, terhubung wailayah Wotgandul dan Jalan Beteng. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/klenteng-gerbang-pecinaan_20160220_065601.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/klenteng-hoo-hok-bio_20160220_065137.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/klenteng-ling-hok-bio_20160220_065222.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/klenteng-siu-hok-bio_20160220_063440.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/klenteng-tek-hay-bio-ttid-sinar-samudera_20160220_062640.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/klenteng-tong-pek-bio_20160220_063252.jpg)