Antara Lontong Cap Go Meh dan Ketupat Lebaran
Perayaan Tahun Baru Imlek 2016 ini ditutup dengan Cap Go Meh, yang tahun ini jatuh pada hari Senin tanggal 22 Februari 2016
Rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek ditutup dengan perayaan yang di tempat asalnya, Tiongkok, disebut dengan yuán xio jié, (dibaca: yuen siau cie), tidak akrab dan hampir tidak pernah dikenal di Indonesia, lebih tidak dikenal nama lainnya shàng yuán jié, (dibaca: shang yuen cie).
Untuk menyederhanakan sebutan, di kemudian hari kemudian disebut dengan Cap Go Meh, yang diambil dari dialek Hokkian, yang artinya ‘malam ke 15’ alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Sederhana, gampang diingat dan mudah dipahami oleh semua orang.
Perayaan aslinya sendiri yang menggunakan makanan simbolis yuán xio, (dibaca: yuen siau) atau ronde, yang menyimbolkan keragaman (kesatuan) keluarga.
Pemaknaannya adalah dari bahan beras ketan yang lengket dan bentuk ronde yang bulat. Besar kemungkinan, makanan yang terbuat dari beras ketan ditumbuk kemudian dibulatkan sehingga kenyal rasanya masih terlihat aneh bagi penduduk lokal.
Untuk mengakrabkan dan memperlancar proses akulturasi, para pendatang ini berkreasi dengan makanan pokok yang sudah ada sejak dulu kala yaitu beras nasi.
Untuk menggenapkan dan memenuhi persyaratan menyambut bulan purnama dibuatlah lontong yang berbentuk bulat juga. Teknik membuat lontong ini dipercaya diadaptasi dari teknik pembuatan bakcang/kicang yang sudah ada ribuan tahun.
Sajian asli untuk perayaan yuán xio jié adalah bulatan ketan dalam kuah daging babi. Namun untuk menghormati penduduk setempat yang beragama Islam, digantilah dengan opor ayam dan uba rampe pelengkapnya yang disajikan bersama dengan lontong tadi.
Sampai saat ini, tidak ada satupun peneliti kuliner dan referensi yang bisa menjelaskan ‘opor ayam’ itu berasal dari mana, sejak kapan ada di Indonesia, siapa penemunya, siapa peramu awalnya, mulai kapan menyebar hampir di seluruh wilayah Nusantara, tidak seorangpun yang tahu, hanya disebutkan ‘resep warisan leluhur’.
Ketupat Lebaran
Bila tidak bisa dikatakan sama, maka ketupat lebaran dan lontong cap go meh bisa dikatakan bersaudara dekat. Tingkat kemiripannya luar biasa. Pasokan karbohidrat yang berbahan beras – ketupat dan lontong, opor ayam dan sambel goreng, tiga komponen utama sajian yang sama persis seperti ini bisa dilihat kasat mata. Hanya kombinasi lain-lain yang berbeda.
Konon, ketupat atau banyak yang menyebutnya kupat juga, diperkenalkan ke masyarakat Jawa oleh salah satu walisanga yang bernama Sunan Kalijaga – beberapa orang meyakininya berasal dari Tiongkok dengan nama asli Gan Si Cang.
Sunan Kalijaga membudayakan Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Entah bagaimana asal-usulnya anyaman daun kelapa membentuk ketupat, namun dari banyak acuan, ketupat melambangkan banyak arti: berbagai macam kesalahan manusia yang dilambangkan dengan rumitnya anyaman ketupat. Berikutnya mencerminkan kesucian dan kebersihan hati serta mohon ampunan dari segala kesalahan yang disimbolkan dengan warna putih ketupat ketika dibelah dua.
Pemaknaan Idul Fitri dengan simbol-simbol yang diterjemahkan ke dalam sajian makanan istimewa dalam perayaan hari besar ini, yang menjadikannya cepat diterima dan menyebar luas.
Perayaan Idul Fitri dengan menyajikan ketupat lebaran yang berisi lengkap: ketupat, opor ayam, sambel goreng, terkadang dilengkapi dengan rendang sapi, serundeng, dan sebagainya, menjadikan sajian ini kuliner khas Indonesia yang tidak akan pernah dijumpai di tempat Islam berasal.
Kenikmatan lontong cap go meh, menjadikannya diterima secara luas dan ‘otomatis’ menjadi kuliner khas Nusantara yang disajikan kapan saja – bukan hanya di saat Cap Go Meh, sehingga namanya menjadi nama generik ‘lontong cap go meh’. Sampai-sampai mungkin tidak banyak orang tahu latar belakang atau asal-usul penamaan sajian nikmat ini. (Aji Chen Bromokusumo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/lontong-cap-go-meh_20160223_131417.jpg)