Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Hari Kartini

Ironis, Rata-rata Pendidikan Perempuan di Kota Kelahiran Kartini Justru Rendah

Ironis, Rata-rata Pendidikan Perempuan di Kota Kelahiran Kartini Justru Rendah

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
GP3M - Mendikbud Anies Baswedan pukul gong sebagai simbolis dicanangkannya GP3M di Jepara, Sabtu 16 April 2016. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA- Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencanangkan Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marjinal (GP3M) di Kabupaten Jepara.

GP3M bermaksud untuk mendidik dan memperdayakan perempuan secara umum. Sehingga diharapkan pengetahuan dan keterampilan perempuan meningkat. Atas gerakan tersebut, Jepara menerima kucuran dana Rp 2,1 miliar. Tidak semua daerah dicanangkan GP3M. Ada beberapa indikatornya.

"Kenapa GP3M dicanangkan di Jepara? Karena Jepara memiliki pahlawan nasional perempuan, yakni Kartini. Kemudian karena di Jepara, pendidikan perempuannya rata-rata rendah," kata Kabag Humas Setda Jepara, Hadi Priyanto, Minggu (17/4/2016).

Teknisnya, GP3M untuk melatih perempuan agar mempunyai keterampilan. Selanjutnya, keterampilannya tersebut bisa menigkatkan taraf hidup perempuan marjinal.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan mencanangkan GP3M di Jepara, Sabtu (16/4/2016).

Anis menerangkan, memang ada anggaran dari kementeriannya untuk program ini. Kucuran dana tersebut difokuskan untuk program pendidikannya. Teknisnya, anggaran tersebut dikucurkan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang sudah ada.

"Itu anggaran yang kami kucurkan dari pos anggaran Kemendikbud. Tapi dalam GP3M, dana tidak hanya dari kami, ada juga dari kementerian lain. Yang penting dapat memperdayakan perempuan marjinal agar mereka produktif," terang Anies.

Ia meminta agar Pemerintah Daerah (Pemda) mengidentifikasi potensi dan kondisi sosialnya agar Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marjinal (GP3M) yang digagas tak salah alamat. Sebab yang mengerti kondisi riil daerah adalah pemerintahan masing-masing.

Semangat yang dibawa dalam program ini, kata dia, bahwa potret keberhasilan pembangunan saat ini menyisahkan kenyataan yang menyesakkan. Yakni ketertinggalan perempuan.

Anis menyontohkan dalam kasus buta huruf. Perempuan yang buta huruf dua kali lipat lebih banyak daripada kaum adam. "Atas landasan keprihatinan terhadap perempuan GP3M tercipta. Program ini adalah ikhtiar khusus bagi mereka yang tertinggal," tandasnya.

Pihaknya menginginkan agar perempuan maju sehingga memang perlu ada program pemberdayaan perempuan melalui pelatihan-pelatihan. Selain itu, yang tak kalah penting membuat mereka membuat kesadaraan bagaimana potensinya bisa meningkatkan kejesahateraan.

Menurutnya, banyak perempuan yang tak sadar jika potensinya bisa dikembangkan secara ekonomis. Itu karena tak banyak rangsangan kegiatan.

Sementara, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susan Yambise menyatakan, secara intelektualitas perempuan tidak kalah dengan pria. Hanya saja, karena beberapa faktor, secara ekonomi banyak perempuan yang rentan. "Itu yang harus kami bantu. Program membantu perempuan yang rentan ekonomi ini juga masuk dalam program unggulan kementerian kami," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved