Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pengembang di Semarang Sulit Cari Tanah untuk Bangun Rumah Murah

dengan harga jual rumah FLPP sebesar Rp 116-118 juta per unit, seharusnya harga tanah adalah Rp 150 ribu/m2.

Penulis: hermawan Endra | Editor: rustam aji

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Perumahan rakyat atau rumah sederhana melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perbankan (FLPP) mengalami masa sulit. Kesulitanya tersebut bukan karena kurangnya daya beli masyarakat, melainkan lebih pada kesulitan pengembang untuk melakukan pembangunan.

"Sekarang ini pengembang perumahan FLPP, masih kesulitan mendapatkan tanah dengan harga yang sesuai denga harga jual perumahan FLPP. Padahal peminatnya banyak," kata Wakil Ketua DPD REI Jateng bidang perumahan Rakyat, Andi Kurniawan, baru-baru ini.

Dia mengatakan, dengan harga jual rumah FLPP sebesar Rp 116-118 juta per unit, seharusnya harga tanah adalah Rp 150 ribu/m2. Tapi sekarang untuk mencari tanah dengan harga segitu sudah sangat sulit. Pengembang yang bisa membangun adalah mereka yang memiliki stok tanah.

Kendala lain, kata dia, lamanya proses persetujuan bank penyalur FLPP. Proses bisa memakan waktu 3-5 bulan. "Selain itu, kendala lain banyak calon pembeli yang belum bankable. Oleh karena itu kami berharap perbankan memberikan kemudahan," imbuhnya.

Bank-bank penyalur fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dinilai kurang optimal menyalurkan subsidi rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Andi Kurniawan mengatakan, ada sebagian bank penyalur FLPP yang menganggap kredit rumah subsidi bernilai kecil, sehingga kurang menarik secara bisnis. Selain itu, banyaknya persyaratan administratif membuat mereka cenderung berhati-hati.

Andi kawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan maka akan berpotensi menghambat penyerapan rumah FLPP. Padahal, target pembangunan di Jawa Tengah di 2016 cukup besar. "Target FLPP Jateng 2016 sebanyak 16.000 unit, tapi sampai triwulan I/2016 ini belum ada 3.000 rumah, jadi masih sangat jauh. Sebetulnya kalau sinergi pihak pengembang dan perbankan bisa lebih cepat, harusnya sudah mencapai angka 5.000 unit," kata Andi.

Oleh sebab itu, lanjutnya, kalangan pengembang perumahan rakyat di Jawa Tengah (Jateng) berharap, bank penyalur KPR FLPP bisa mempercepat proses persejutuan atas calon debitur.

Direktur Utama PT Hamparan Cipta Griya, Nur Widhi menambahkan, kondisi saat ini menghambat perputaran roda bisnisnya. Dari berbagai lokasi pengembangan yakni di Demak, Kendal, Klaten, Wonogiri mengalami permasalahan yang hampir sama. Dia berharap, para bank penyalur FLPP bisa saling berkompetisi memberikan kualitas terbaik, satu diantaranya dalam hal percepatan penyaluran pembiayaan KRP FLPP.

"Pengalaman saya, 70 unit senilai sekitar Rp 7 miliar waktunya bisa lebih dari tiga bulan baru keluar surat persetujuan pemberian kredit. Resikonya adalah karena terlalu lama bisa jadi pengembang menanggung biaya kenaikan rumah, konsumen beli akhir tahun 2015 tapi baru disetujui 2016 ini, harga rumah sudah beda," imbuhnya.

Diketahui, realisasi pembangunan rumah sejahtera tapak di Jawa Tengah sepanjang 2015 lalu sebanyak 3.683 unit. Angka tersebut jauh dari yang ditargetkan yakni 10.384 unit. (wan)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved