Tribun Jateng Hari Ini
Produsen Kerek Harga Produk Plastik Kemasan hingga 100 Persen
Kenaikan harga bahan baku terjadi cukup drastis. Harga bijih plastik jenis OPV yang biasanya Rp 35 ribu/kg kini melonjak menjadi Rp 70 ribu/kg.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Kenaikan harga bahan baku plastik membuat produsen plastik kemasan kelimpungan. Selain harus memangkas produksi, pelaku usaha juga menghadapi penurunan permintaan dari konsumen.
Produsen plastik kemasan di Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Andi Wahyu Utomo mengatakan, kenaikan harga bahan baku sebenarnya sudah terjadi sejak pertengahan puasa. Namun, lonjakan drastis sangat dirasakan setelah Lebaran.
Menurut dia, lonjakan harga plastik dipicu kenaikan harga bahan baku berupa bijih plastik berbasis nafta. Selama ini, bahan baku tersebut didatangkan melalui impor dari kawasan Timur Tengah.
"Bahan bakunya dari nafta, itu impor dari Timur Tengah. Karena ada konflik Iran, Israel, dan Amerika, pasokan jadi terhambat, otomatis harga naik," katanya, saat ditemui di tempat produksinya, Selasa (7/4).
Andi menuturkan, kenaikan harga bahan baku terjadi cukup drastis. Sebelumnya, harga bijih plastik jenis OPV yang biasa ia gunakan berada pada kisaran Rp 35 ribu/kg, dan kini melonjak dua kali lipat menjadi Rp 70 ribu/kg.
Hal itupun disebut berdampak langsung pada biaya produksi. Ia mengaku harus mengurangi pembelian bahan baku dari sebelumnya 15 ton menjadi hanya sekitar 7 ton.
"Dulu sekali ambil bisa sampai 15 ton, sekarang paling 7 ton. Kami kurangi karena takut tiba-tiba harganya turun," ujarnya.
Dipangkas
Akibatnya, Andi menyatakan, kapasitas produksi pun secara otomatis ikut dipangkas. Dampaknya, jam kerja karyawan menjadi berkurang.
Di sisi lain, biaya produksi yang naik juga turut berimbas pada harga jual plastik kemasan produksinya yang kini naik pada kisaran 80-100 persen. Harga plastik kemasan yang semula dibonderol Rp 5 ribu/pack kini menjadi Rp 10 ribu/pack.
Ia berujar, kenaikan harga itupun turut memengaruhi perilaku konsumen. Sebelumnya, pelanggan yang biasa membeli hingga 10 pack plastik, kini rata-rata hanya membeli tiga hingga empat pack.
"Dampaknya banyak. Otomatis mengurangi mengurangi jam kerja karyawan. Pelanggan, dampaknya merasa plastik mahal sekali, sehingga mengurangi pembelian," bebernya.
Andi berharap, kondisi ekonomi bisa kembali pulih. Sehingga, aktivitas produksi hingga jual beli produk berbahan plastik bisa kembali pulih.
Sementara, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi mengungkapkan, kenaikan harga bijih plastik di level pengusaha di Jateng mencapai 100 persen.
Menurut dia, lonjakan harga bahan baku itu menyebabkan pengusaha merugi. Kenaikan itu tidak hanya berdampak ke pengusaha plastik, melainkan juga perusahaan garmen, karena menggunakan poliester yang berbahan dasar serat plastik.
"Pabrik bahan plastik merugi luar biasa, teken kontrak suplai produk plastik harga normal, tapi harga bahan baku justru melambung tinggi," tukasnya. (Eka Yulianti Fajlin/Iwan Arifianto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260407_produksi-plastik.jpg)