Liputan Khusus

Gaji Seret, Atlet PON Jateng Diiming-imingi Jadi PNS oleh Provinsi Lain

persiapan atlet Jateng yang diharapkan mendulang prestasi di ajang bergengsi olahraga nasional itu terganggu bahkan terkesan amburadul.

Gaji Seret, Atlet PON Jateng Diiming-imingi Jadi PNS oleh Provinsi Lain
tribunjateng/suharno
Yoyok Sukawi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hanya dalam hitungan bulan, Jateng akan berlaga dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan digelar di Jawa Barat September 2016.

Namun persiapan atlet Jateng yang diharapkan mendulang prestasi di ajang bergengsi olahraga nasional itu terganggu bahkan terkesan amburadul.

Program latihan yang dicanangkan para pelatih terhenti, dan atlet tak lagi bersemangat. Penyebabnya adalah gaji atlet yang terhenti selama tiga bulan terakhir.

Tak hanya itu, minimnya kesejahteraan membuat atlet Jateng hengkang ke provinsi lain. Iming-iming gaji tinggi, hingga tawaran menjadi PNS di provinsi lain membuat atlet Jateng goyah.

Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah, AS Sukawijaya, mengakui prestasi olahraga perlu digenjot dengan dukungan dana. Hanya saja, hal itu disesuaikan kemampuan keuangan daerah sendiri.

Jika tidak ada kemauan keras dari atlet dan pengurus cabang olahraga untuk meningkatkan prestasi, tidak akan ada pengaruhnya meski sudah digelontor dana besar sekalipun.

Hal itulah yang selama ini terjadi di Jawa Tengah. Meski dengan dana terbatas dibanding provinsi lain, Jawa Tengah masih masuk dalam lima besar dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON).

"Periode lalu, Jawa Tengah peringkat 4 dengan anggaran Rp 80 miliar. Periode ini anggaran turun menjadi Rp 70 miliar. Tapi, ada beberapa cabang olahraga yang meningkat atletnya dilihat dari Pra-PON kemarin. Bahkan melebihi PON periode lalu," kata pria yang akrab disapa Yoyok Sukawi itu, kemarin.

Pada Pra-PON, Jawa Tengah hanya menggunakan anggaran Rp 30 miliar. Jumlah tersebut sangat jauh dibanding Provinsi lain. Namun, jumlah atlet yang lolos dalam PON justru meningkat dibanding periode 4 tahun lalu.

Yoyok mengatakan, Jawa Tengah dikenal sebagai gudangnya atlet. Ia mengakui, dengan banyaknya atlet berpotensi maka tidak mungkin semua atlet akan terpakai untuk mewakili Jawa Tengah dalam ajang tersebut. Bahkan, melihat dana yang ada, tidak mungkin setiap atlet mendapatkan kesejahteraan yang berlebih.

"Bagi provinsi yang dananya jor-joran, tentu mereka leading, misal Jakarta yang sudah mengalokasikan lebih dari Rp 200 miliar. Namun, Jawa Tengah selama ini selalu diperhitungkan provinsi lain. Karena kita sejak awal sudah bagus di pembinaan atlet," ujarnya.(Tim)

Selengkapnya baca Tribun Jateng edisi cetak, Selasa (24/5)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved