Headline Hari Ini
Kala Harga Daging Murah Hanya di TV
"Harusnya pusat bisa menurunkan harga di pejagalan juga, pemerintah jangan teori saja," katanya.
UNGARAN, TRIBUNJATENG.COM - Pedagang daging sapi di Pasar Babadan, Kabupaten Semarang, Suwarni, mengatakan masuknya daging impor tidak membuat harga daging sapi turun.
Menurutnya, harga daging sapi di pasaran masih di kisaran Rp 110.000 per kilogram. "Daging impor enggak laku. Meski harganya murah, pembeli jarang ada yang mau. Kata pembeli, rasanya agak lain, dagingnya juga tidak segar," terang Suwarni, Selasa (7/6).
Suwarni mengakui banyak pembeli mengeluhkan tingginya harga daging sapi. Kebanyakan pembeli menanyakan kebenaran pemberitaan tentang turunnya harga daging sapi pada kisaran Rp 80.000, seperti berita yang disiarkan melalui stasiun televisi. "Ya saya bilang, beli saja di televisi kalau dapat daging sapi seharga Rp 80.000," cetusnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang, Sri Handayani mengaku tak bisa menekan harga daging sapi di pasaran. Menurutnya, harga daging sapi di pasaran di kisaran Rp 110.000 per kilogram.
"Pemerintah pusat menginginkan harga daging ditekan sampai Rp 80.000. Ini tentu perlu perjuangan panjang, dan tentunya akan membawa dampak begitu besar terhadap peternak," ucapnya.
Pedagang daging sapi di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Andi juga menyatakan, operasi pasar daging sapi yang dilakukan pemerintah tidak membuat harga daging sapi turun.
"Harga daging sapi dari pejagalan (rumah pemotongan hewan) sudah mahal. Saya beli Rp 88.000 per kilo langsung dari tukang jagal, itu juga sama tulang dan lemak‑lemaknya, bukan hanya daging," ujar Andi. Mau tidak mau Andi mematok harga jual ke konsumen di atas Rp 88.000 per kg. "Saya jual Rp 130.000 per kilogram," katanya, Selasa.
Menurut dia, harga daging sapi pada tingkat pedagang bisa turun kalau harga di pejagalan juga turun. Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa mewujudkan hal itu.
"Harusnya pusat bisa menurunkan harga di pejagalan juga, pemerintah jangan teori saja," katanya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit menyatakan, mustahil harga daging sapi bisa dijual di pasar seharga Rp 80.000 per kilogram seperti keinginan Presiden Jokowi. Program daging sapi Rp 80.000 per kg tak bisa dilaksanakan karena pasokan daging sapi masih kurang.
Anton menilai, Jokowi mendapatkan data yang keliru sehingga mengeluarkan perintah harga daging sapi harus Rp 80.000 per kg. "Kasihan Pak Jokowi disuguhi data tidak benar," ujar Anton di Jakarta.
Anton menjelaskan, pasokan daging sapi dalam negeri masih sangat kecil. Mayoritas peternak sapi merupakan peternak kecil. "Sekarang 80 persen sampai 85 persen peternak sapi adalah peternak kecil, harga pokok pembelian daging sapi pasti lebih dari Rp 80.000," papar Anton.
Anton menambahkan, keinginan Jokowi bisa terwujud namun yang dijual adalah daging jeroan (karkas) yang diimpor dari Australia.
Perbedaan data
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, mengungkap ada dua faktor yang memicu masalah daging sapi. Pertama adalah perbedaan data kementerian tentang konsumsi daging sapi sedangkan faktor kedua adalah rantai distribusi daging sapi yang cukup panjang. "Perbedaan data ini berimplikasi kepada data kebutuhan daging sapi nasional. Kalau di situ ada perbedaan, bagaimana bisa menentukan kuota," kata Syarkawi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bi-tegal-prediksi-inflasi-agustus-tidak-sampai-093-persen_20150815_174314.jpg)