Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

HEBAT, Pesantren Al-Achsaniyah Kudus Khusus Menerima Santri Penderita Autisme

HEBAT, Pesantren Al-Achsaniyah Kudus Khusus Menerima Santri Penderita Autisme

Penulis: yayan isro roziki | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/YAYAN
Pesantren Al-Achsaniyah Kudus Khusus Menerima Santri Penderita Autisme 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS- Suasana riuh terdengar dari sebuah gazebo di lingkungan pondok pesantren (ponpes) Al-Achsaniyah, di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Keriuhan berasal dari suara ritmis anak-anak penderita autis, yang sedang belajar mengaji dan menghafal Asmaul Husna.

Tak kurang dari delapan anak duduk melingkar. Beberapa di antaranya tampak membawa kitab suci Alquran. Seorang guru, Hesti Nur Khasanah, berada di antara lingkaran anak-anak tersebut.
Saat diminta melantunkan Asmaul Husna, seorang anak, Dino Pratama Putra, tampak fasih melantunkannya. Usai belajar mengaji, Dino tak sungkan saat beberapa awak media menyapa, dan mengajaknya bercengkrama.

"Barusan belajar mengaji. Saya sudah hafal surat An-Nas dan juga Asmaul Husna," kata Dino, kemarin.
Penderita autisme asal Kudus itu mengaku senang, nyantri di Ponpes Al-Achsaniyah. Sudah lebih dari setahu belakangan ini, ia tinggal di sana. "Selain belajar ngaji, di sini senang, banyak temannya. Ada yang dari Jakarta, Lampung, Brebes, Surabaya, dan banyak kota lainnya," tutur dia.

Pengasuh Ponpes Al-Achsaniyah, KH. Moh Faiq Afthony, mengatakan ponpes yang mulai didirikannya pada 2007 itu memang khusus menangani anak-anak autis dan berkebutuhan khusus. Menurut dia, saat ini santri di tempatnya sekitar 80 orang, mulai dari usia lima tahun, hingga paling tua berusia 41 tahun.
"Daya tampung di sini, sementara ini maksimal hanya 90 santri, dengan tenaga pengajar sekitar 55 orang," ucapnya.

Disampaikan, saat mula datang, rata-rata perilaku para santri tak terkontrol, sulit diajak komunikasi. Bahkan, seringkali tak bisa dikendalikan.

"Saat pertama datang, kita terapkan sistem one on one, satu guru untuk satu santri. Di mana ini adalah masa observasi, untuk melihat bakat dan minat, serta karakter santri. Masa observasi, ada yang hanya cukup minggu, bisa juga hingga enam bulan. Rata-rata, sebulan di sini mereka sudah bisa mengikuti instruksi," tutur alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, ini.

Ditandaskan, para santri di sini dididik untuk mengembangkan bakat dan minat mereka. Sementara, pendidikan akademik adalah hal nomor sekian. "Kami mengupayakan, agar anak-anak ke depan bisa mandiri, dan berkembang sesuai minat dan bakat yang dimiliki," ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga menerapkan diet makanan ketat terhadap para santri. Diterangkan, anak-anak autis mempunyai kekhususan dibanding anak pada umumnya, pun dalam sistem pencernaan mereka.
Menurut dia, perilaku tak terkontrol anak autis cenderung disebabkan oleh asupan makanan yang tak sesuai.

"Di sini, anak-anak dilarang minum susu, mi instan, ciki-cikian, makanan ber-MSG, dan beberapa diet makanan lain. Ketika perilaku mereka tak terkontrol, berarti ada asupan makanan yang tak bisa sempurna dicerna oleh pencernaan mereka, ini mengakibatkan emosi meluap-luap," terang lulusan Fakultas Syariah dan Kedokteran Islam, ini.

Selain diet ketat makanan, para santri juga mendapat beberapa terapi kesehatan. Antara lain adalah terapi akupuntur. Lantaran ketekunannya menangani anak-anak autis, menurut dia, belum alam ini pihaknya mendapat tawaran untuk menangani santri autis dari Iraq dan Malaysia. Hanya, tawaran terseut belum dapat diterimanya.

"Mungkin di sini adalah satu-satunya ponpes yang khusus menangani anak autis. Tawaran kolega dari Iraq dan Malaysia belum dapat kami terima, karena masih ada beberapa hal yang belum siap," ucapnya.

Terkait para tenaga pengajar, ia tak mensyaratkan mereka harus sarjana. Bagi dia, menangani anak autis membutuhkan ketelatenan dan kesabaran tinggi. "Harus dari panggilan hati, itu yang penting. Banyak sarjana psikologi yang melamar, setelah saya test mendampingi selama tiga jam, saya tahu mereka tak betah, terlihat dari gestur dan mimik wajah," sambung dia.

Ditambahkan, di ponpes yang diasuhnya juga terdapat sekolah luar biasa (SLB), untuk memberi pendidikan umum terhadap para santri. "Kami juga berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan juga Depag. Kendati sisi akdemik adalah nomor dua, santri juga diberi pengetahuan umum. Sebab, jika mereka sudah bisa bersosialisasi secara baik, tak menutup kemungkinan, mereka akan saya sekolahkan di sekolah umum," imbuh dia. (tribunjateng/yayan isro roziki)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved