Eksekusi Terpidana Mati
Kisah Suhendro Petugas yang Memandikan Jenazah Terpidana Mati
Kisah Suhendro Putro (62), koordinator petugas memandikan jenazah terpidana yang beragama Kristen dan Katolik.
Penulis: adi prianggoro | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM - Kepastian eksekusi terhadap 14 terpidana mati di Nusakambangan juga diungkapkan Suhendro Putro (62), koordinator petugas memandikan jenazah terpidana yang beragama Kristen dan Katolik.
"Saya diminta kumpul di Polres Cilacap Kamis malam pukul 20.00 WIB lalu berangkat bareng‑bareng ke Nusakambangan," kata Suhendro kepada Tribunnews, Kamis (28/7).
(Dulu, 4 Artis Cantik Ini Dikabarkan Gantian Bolak-balik Penjara untuk Kencan dengan Freddy Budiman)
Karena itulah diyakini bahwa para terpidana mati dieksekusi pada Kamis Pon malam atau Jumat (29/7) Kliwon dinihari.
Suhendro menyatakan dirinya bertugas memandikan 10 jenazah dari total 14 terpidana yang dieksekusi mati. Mereka adalah tujuh terpidana beragama Kristen dan tiga terpidana beragama Katolik.
"Yang memandikan jenazah dari Kristen 11 orang dan Katolik ada enam orang," ungkap jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Cilacap tersebut.
Suhendro menceritakan waktu untuk memandikan satu jenazah sekitar 60 menit.
“Proses memandikan jenazah itu panjang. Setelah (terpidana) ditembak, harus dipastikan dulu sudah meninggal atau belum lalu dijahit lukanya, dimandikan, dipakaikan baju," terangnya.
Suhendro bukan kali pertama memandikan jenazah terpidana mati. Pada eksekusi tahap pertama, Suhendro memandikan lima jenazah terpidana dan pada eksekusi mati tahap kedua memandikan tujuh jenazah.
"Grogi sih tidak, tapi memang ini tidak ringan. Saya memandikan jenazah sudah sejak tahun 1992," terangnya.
Pada eksekusi mati tahap pertama dan kedua, Suhendro bahkan menyediakan perlengkapan kematian untuk jenazah terpidana mati. Di antaranya peti, salib, dan lainnya.
"Tetapi untuk eksekusi tahap ketiga kali ini saya tidak diminta menyediakan perlengkapan kematian. Semua perlengkapan kematian jenazah terpidana sudah disediakan pihak kejaksaan dan kepolisian," ungkapnya.
Jelang detik-detik eksekusi tak memengaruhi aktivitas masyarakat di sekitar Pulau Nusakambangan, Cilacap. Warga setempat, Kendar (34) bertutur, masyarakat sudah terbiasa dengan pelaksanaan eksekusi mati.
"Ini (pelaksanaan eksekusi mati) bukan yang pertama kali. Masyarakat tidak takut, meski kali ini pelaksanaannya pada malam Jumat Kliwon yang biasanya dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat mistis," kata Kendar saat ditemui di rumahnya di Kampung Wijaya Pura, Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap.
Rumah Kendar hanya berjarak beberapa meter dari Dermaga Wijaya Pura, akses utama menuju Pulau Nusakambangan. Kendar menyebut kawasan dermaga dan Pulau Nusakambangan memang dikenal angker.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ambulans-tiba-di-pelabuhan-wijaya-pura-cilacap_20160729_091758.jpg)