Breaking News:

Resensi Buku

Humor sebagai Obat

Humor sering jadi pilihan untuk mendapatkan hiburan. Sebab, tawa kini menjadi hal berharga ketika hidup telah penat oleh kesibukan kerja

Editor: iswidodo
NET
BUKU TUHAN TIDAK MAKAN IKAN 

Referensi buku oleh Al-Mahfud | Penikmat fiksi, tinggal di Pati

TRIBUNJATENG.COM - Humor sering jadi pilihan untuk mendapatkan hiburan. Sebab, tawa kini menjadi hal berharga ketika hidup telah penat oleh kesibukan kerja. Tapi, humor kadang tak berhenti pada tawa belaka. Hal-hal unik,aneh, mengejutkan—yang memantik tawa, di saat bersamaan kadang mampu membuat pikiran lebih terbuka dan perasaan tersadarkan akan banyak hal.

Buku kumpuan cerita pendek karya Gunawan Tri Atmodjo (GTA) ini mengangkat beragam tema yang tak jauh dari keseharian. Namun, GTA lihai meramunya menjadi kisah unik, lucu, dan membuat kita merenungi dan berefleksi tentang berbagai kecenderungan negatif kita dalam kehidupan. Seperti sifat semena-mena, lalai, kenaifan, kemurungan, dan pesimisme. Berbagai kecenderungan tersebut seperti sengaja disindir cerita-cerita di buku ini.

Cerpen berjudul Anak Jaranan menggambarkan betapa idealisme—yang dilambangkan tokoh Trijoko, sering tak berdaya ketika sudah dihadapkan pada realitas—yang disimbolkan Sundari, istri Trijoko yang keranjingan sebuah sinetron yang juga sedang digemari publik. Trijoko, yang seorang penulis naskah teater itu menganggap cerita-cerita dalam sinetron populer sangat murahan dan jauh dari keagungan seni. Setelah ribuan episode menonton sinetron tersebut (karena dipaksa menemani sang istri), muncul ide di benak Trijoko untuk menggarap naskah teater berjudul “Anak Jaranan”.
===================================
Judul: Tuhan Tidak Makan Ikan
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit: Diva Press
Cetakan: 1-April 2016
Tebal: 244 halaman
ISBN: 978-602-279-225-3
===================================
Namun, naskah teater yang digarap Trijoko untuk mengolok-olok sinetron populer itu telah menyinggung perasaan Sundari. Sebagai suami yang tak berdaya di hadapan istri, akhirnya Trijoko menuruti perintah Sundari untuk menghapus file naskah tersebut. “Bahkan, Sundari memeriksa sendiri recycle bin laptop guna memastikan file naskah itu sudah terhapus dengan tuntas” (hlm 220-221). Di sinilah kelucuan itu muncul. Kisah ironis yang menggambarkan laku superioritas dan sok kuasa yang masih sering menjadi penyakit banyak orang. Kuasa dan jabatan sering membuat orang merasa lebih tinggi dan berhak berlaku semena-mena pada yang lain.

Hal tersebut juga tergambar dalam cerpen berjudul Slimicinguk, yang berkisah tentang ide bawahan yang sering tak berarti ketika dihadapkan pada atasan. Jika di cerita Anak Jaranan, ambisi-idealis Trijoko akhirnya tak berdaya di hadapan istrinya, maka di kisah ini, Cipto Hadi, seorang penerjemah komik tak berdaya di hadapan Dodi Nuryanto, direktur utama penerbit tempat Cipto bekerja. Ide umpatan “slimicinguk” oleh Cipto Hadi harus tersisih oleh “bagero” umpatan ciptaaan sang direktur.

Banyak tren di masyakat yang dipungut GTA dan ditaburkan dalam cerita pendeknya. Kembali lagi, itu memunculkan kelucuan sebab dengan sendirinya akan lebih mudah terimajinasikan dan terbayangkan pembaca—saat ini. Sebab, kita tahu, homor tak akan lucu jika kita tak “mengerti” maksudnya. Misalnya, penampilan norak—kelatahan mengikuti tren—kebanyakan remaja masa kini dalam cerita berjudul Cabe-cabean Berkalung Tasbih, atau maraknya laku selfie yang pernah membuat orang-orang merusak taman bunga dalam pembukaan cerita berjudul Ramalan, serta kecenderungan selera masyarakat pada tayangan kurang mendidik dalam cerita Anak Jaranan sebagaimana diulas di awal.

Saat kita menertawakan tingkah para tokoh atau hal konyol lain di cerpen-cerpen di buku ini, di saat bersamaan kita seperti sedang berkaca dan menertawakan kehidupan ini; menertawakan diri sendiri. Humor, di samping menjadi hiburan pelepas penat, juga menyimpan fungsi penting; media berkaca, berefleksi, bahkan evaluasi diri. Kecenderungan-kecenderungan buruk yang bercokol dalam diri akan diluruhkan gelak tawa yang membuat pikiran lebih terbuka. Seperti kata sastrawan Triyanto Triwikromo, “Humor dalam kisah Gunawan, dengan demikian adalah nama lain bagi obat. Ia menyembuhkan kita dari penyakit dengki, iri hati, sok kuasa, dan menganggap orang lain sebagai biang kesalahan”. (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved