Jantung Arief Dipasangi Cincin Sejak Usia 25 Tahun Karena Pembuluh Darah Menyempit

Jantung Arief Dipasangi Cincin Sejak Usia 25 Tahun Karena Pembuluh Darah Menyempit

Jantung Arief Dipasangi Cincin Sejak Usia 25 Tahun Karena Pembuluh Darah Menyempit
tribunjateng/hermawan handaka/dok
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kematian penyanyi muda Mike Mohede (33) akibat serangan jantung membuat masyarakat kaget. Kesadaran untuk menjaga kesehatan jantung pun mulai ditingkatkan.

Penyakit yang menurut data World Health Organization (WHO) sebagai penyakit mematikan nomor satu ini juga terjadi pada Arif Nugroho. Bahkan, pria 32 tahun yang tinggal di Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, ini terpaksa memakai satu cincin sejak umur 25 tahun untuk menormalkan kerja pembuluh darah yang menyempit.

Pemilik distro di Tembalang ini bercerita, serangan jantung pertama kali datang saat dia bermain futsal. Di tengah permainan, alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini merasakan dada sesak, jantung berdebar, diikuti keluarnya keringat dingin. "Saya langsung tumbang dan dibawa teman-teman ke dokter umum terdekat. Saat itu, dokter mengatakan saya kena hipertensi (darah tinggi)," beber Arif.

Lantaran gejala yang dialami tak kunjung reda, keesokan hari, orangtua Arif membawa putra semata wayangnya ke RSUP Dr Kariadi. "Orangtua langsung menangis saat dokter menyatakan saya terkena serangan jantung karena adanya penyempitan pembuluh darah," paparnya.

Informasi dari dokter, pemasangan ring harus dilakukan lantaran 12 jam sejak serangan pertama, Arif tak mendapat penanganan serius. Kini, selain memakai ring, Arif harus menjaga pola hidup sehat dan membatasi aktivitas agar jantung tak bekerja berat. Dia juga wajib mengonsumsi obat setiap hari agar bisa beraktivitas.

Pola hidup sehat juga diterapkan Shafirani Istiqomah yang memiliki garis keturunan penyakit jantung. Setiap pagi, mahasiswi jurusan Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang ini memiliki kebiasaan rutin untuk menjaga kesehatan jantung.

"Seusai salat subuh, saya selalu berzikir sambil menghirup udara pagi yang segar, yang masuk dari jendela rumah. Kadar gizi dan kebersihan makanan serta minuman juga saya hitung," kata Shafira.

Sementara Nurullita Indriani, takut memeriksakan diri ke dokter. Padahal, sesekali, Mahasiswi Universitas Semarang (USM) ini merasakan nyeri di dada dan mudah kaget saat teman-teman menjahili.
"Kalau periksa ke dokter, takut kalau didiagnosa sakit macem-mace. Selama ini, nyeri di dada juga tidak sakit banget. Paling beberapa detik terus ilang dan itu juga sesekali, tidak jarang. Jadi, tidak perlu sampai ke rumah sakit," ujar dara berjilbab ini. (tribunjateng/dini suci)

Penulis: dini
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved