Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Nasihat Sang "Pembunuh Tuhan" Untuk Guardiola dan Mourinho

Persaingan Jose Mourinho dengan Josep “Pep” Guardiola, sebenarnya bukan hikayat baru.

Tribunnews.com/Net
Jose Mourinho dan Pep Guardiola. Friedrich Wilhelm Nietzsche (insert) 

Jika hanya ada semangat Apollonian, maka keindahan akan menjadi stagnan, tak berkembang, lalu menjadi totem atau mati.

Meski bertolak belakang, kedua simbolisasi semangat ini tak bisa dipisahkan, bahkan saling memengaruhi. Alhasil, pertautan kedua oposisi biner itu justru menciptakan hal-hal baru yang secara superfisial menyatu: keindahan seni.

Negara yang disebut Nietszche sebagai pembunuh seni dan keindahan itu, tampaknya bisa diwakilkan sebagai kekuatan modal berbagai taipan dunia sepak bola.
Tak peduli laga itu berjalan seperti apa, yang penting tiket, pernak-pernik, bursa taruhan, dll, menguntungkan dan menambah pundi-pundi uang para pemodal.

Tapi, itu bukan berarti sepak bola kekinian tak lagi memiliki nilai estetis yang mampu membuat penggemarnya bahagia. 

Setidaknya, ada Guardiola yang mewakili semangat Apollonian dan Mourinho “si Dionysian” yang lewat perseteruannya, mampu kembali menghadirkan keindahan tersendiri dalam sepak bola.

Kemungkinan, banyak pihak yang merasakan ada “sesuatu yang hilang” di La Liga Spanyol, ketika Mou dan Pep memilih hengkang dari kompetisi itu.

Meski pesona Barcelona terus bersinar, dan kemegahan Real Madrid semakin kuat, tetap saja tak semenarik saat Pep dan Mou saling lempar sindiran ketika konferensi pers, serta adu taktik di lapangan.

Kekinian, jika Mourinho dan Guardiola mau mendengarkan "nasihat" dari Nietzsche itu, kita boleh lah berharap bisa merasakan ekstase saat menyaksikan Manchester United vs Manchester City sembari “deg-deg-ser”. (Tribunnews.com/Reza Gunadha)

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved