Forum Mahasiswa
Menyambut Mahasiswa Baru Cara Ong
ara penyanyi dan grup musik mulai sibuk manggung di kampus. Kehadiran mereka diperlukan untuk menyambut sekaligus menghibur mahasiswa baru.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Para penyanyi dan grup musik mulai sibuk manggung di kampus. Kehadiran mereka diperlukan untuk menyambut sekaligus menghibur mahasiswa baru. Acara penyambutan mesti meriah dan asyik. Grup musik berkelas nasional perlu menghibur mahasiswa baru agar kesan beranjaknya status dari siswa menjadi mahasiswa tidak biasa-biasa saja.
Kehadiran mahasiswa baru pantas dirayakan dengan berdendang dan berjoget. Mahasiswa baru perlu merasakan girang di hati dan pikiran sebelum direcoki tumpukan tugas dari dosen.
Kita bisa sejenak menyingkir dari keriuahan acara penyambutan mahasiswa. Kita beralih menyimak acara penyambutan mahasiswa yang reda dari kebisingan suara gebukan drum, petikan gitar, dan lengkingan suara penyanyi. Cerita sederhana dan unik dalam menyambut mahasiswa baru tersaji dalam biografi Onghokham (selanjutnya ditulis Ong).
Cerita Ong mengajak kita untuk bertamu ke buku berjudul Onze Ong (2007). Buku bergambar Ong sedang leyeh-leyeh di kasur bersanding ratusan buku yang berserakan di kamar, dan secangkir kopi ditaruh di atas tumpukan buku. Buku terbit untuk mengenang 100 hari kepergian Ong. Teman Ong yang dari pelbagai latar belakang, sejarawan, dosen, mahasiswa, dan keluarga menulis untuk mengenang kepergiannya.
Kita tidak melulu disuguhi Ong sebagai sejarawan. Beberapa tulisan menceritakan Ong sebagai manusia biasa yang kadang menjengkelkan sekaligus menyenangkan. Kisah Ong sebagai dosen memiliki kesan yang mendalam bagi mahasiswanya. Di kampus, Ong termasuk daftar dosen kejam. Mahasiswi-mahasiswi yang berbedak tebal dan sedikit menor mesti menghapus make-upnya. Kalau sudah berbedak tebal dan tidak bisa menjawab pertanyaan Ong, maka Ong akan berucap,“Huuh, waktumu dihabiskan untuk berpupur dan bergincu saja! (hal.315)”.
Mendengar perkataan demikian, rasanya sadis, mengutip kata artis Al Ghazali dalam iklan mi instan di televisi.
Hidup dengan ribuan buku membuat Ong membenci kemalasan sekaligus kebodohan. “Kekejaman” Ong di kelas terus mengenang dalam ingatan mahasiswanya. Semasa menjadi dosen, Ong menerapkan tradisi yang unik dalam menyambut mahasiswa baru. Ong tidak menggunakan ruang kelas sebagai perkenalan kepada mahasiswa. Ong mengundang mahasiswa baru ke rumahnya untuk perkenalan. Perkenalan tidak berlangsung resmi dan formal. Acara dikemas dengan suasana penuh keakraban dan informal.
Tulisan dari Wilson yang juga terangkum dalam Onze Ong (2007) merekam peristiwa penyambutan mahasiswa baru di rumah Ong. Wilson mengenang:“Pada saat itu ada tradisi, seluruh mahasiswa baru akan diundang makan siang ke rumah Pak Ong yang unik dan artistik di Cipinang Muara (hal.342).” Bertamu ke rumah dosen tidak melulu mendekam di ruang tamu selama ratusan menit sembari icip-icip makanan dan minuman.
Sang tuan rumah mengajak para tamu, mahasiswa baru, berkeliling memasuki setiap ruang yang ada di rumah Ong. Mata akan menuju kamar pribadi, ruang tamu, ruang kerja, perpustakaan, dan kamar mandi yang tidak beratap.
Seperti gambar dalam sampul buku yang menggambarkan ribuan buku di kamarnya. Ong pun mengajak mahasiswa baru melihat-lihat ribuan koleksi bukunya yang tertata di rak. Mata mahasiswa dibuat terpana melihat koleksi ribuan buku milik sang sejarawan kondang. Buku-buku hanya boleh dilihat dan tidak boleh dibawa pulang. Makanya setelah seusai adegan memamerkan buku kepada mahasiswanya, Ong akan memeriksa tas mahasiswanya satu per satu. Khawatir kalau ada bukunya yang ikut terbawa. Barangkali Ong juga khawatir ada mahasiswa mencuri bukunya. Menanggapi sikap kehati-hatian Ong dalam menjaga buku. Wilson menerangkan,”…Pak Ong sangat mencintai ribuan koleksi bukunya mirip anak-anaknya sendiri (hal.343).”
Sebagai “orang tua”, tentu Ong tidak ingin “anak-anaknya” hilang, rusak, bahkan musnah. Memperlakukan buku sebagai anaknya adalah sikap memuliakan buku yang sulit ditiru. Buku tidak sekadar pajangan di rak. Buku-buku telah menemani Ong dalam menggarap esai-esai bertema sejarah yang tampil di koran atau majalah. Tentu sebagai tuan rumah, Ong tidak rela membiarkan tamunya mumet memandangi ribuan buku. Selesai adegan berkeliling rumah, para mahasiswa duduk di beranda rumah sembari satu per satu mengenalkan diri dengan latar belakang daerah masing-masing.
Tentu Ong tidak membiarkan tamunya dalam kondisi kelaparan. Ia menunjukkan keahliannya memasak masakan untuk tamunya. Acara ditutup dengan santap siang bersama. Wilson mengisahkan,“Kami diajak ke dapur Pak Ong untuk menyaksikan dia memasak masakan yang akan menjadi menu bagi sekitar 30 orang (hal.343).” Ong mengakhiri acara penyambutan di rumahnya dengan santap bersama. Mahasiswa pun pulang dengan kondisi perut penuh amunisi dan kepala sesak oleh ribuan gambar kaver buku. Mantap!
Kini kisah Ong telah terlewati puluhan tahun. Kita mulai jarang mendapati kisah penyambutan mahasiswa baru berlangsung di rumah-rumah dosen. Penyambutan mahasiswa di ruang kelas sering berlangsung hambar dan tidak berkesan. Cara Ong dalam menyambut mahasiswa dapat menjadi referensi kita dalam membuat acara sambutan yang berkesan dan bermakna. Muhammad Yunan Setiawan
Mahasiswa Ilmu Hukum
Universitas Semarang (USM) (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/enam-ribu-mahasiswa-baru-unnes-gunakan-tampah-untuk-buat-mozaik_20160818_120941.jpg)