Produksi Kopi Turun di Tengah Lonjakan Konsumsi
Kondisi produksi di Jateng hampir sama dengan kondisi secara nasional, di mana diperkirakan terjadi penurunan mencapai 60 persen pada 2017.
Penulis: hesty imaniar | Editor: a prianggoro
TRIBUNJATENG.COM- Produksi kopi Indonesia pada 2017 diperkirakan bakal mengalami penurunan hingga 60 persen, menyusul badai La Nina yang saat ini menghantam Indonesia.
Hal itu diungkapkan, Ketua Kompartemen Peningkatan Mutu Produksi Kopi Indonesia BPP Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo. Menurut dia, penurunan itu menjadi ironi di tengah kondisi terus meningkatnya konsumsi kopi.
Menurut dia, konsumsi kopi saat ini terus tumbuh, dengan rata-rata dunia sebesar 1,2-1,4 persen. Sementara di Indonesia peningkatan konsumsi kopi mencapai 5-6 persen.
“Kondisi produksi di Jateng hampir sama dengan kondisi secara nasional, di mana diperkirakan terjadi penurunan mencapai 60 persen pada 2017. Sehingga, harus ada langkah-langkah untuk menyetabilkan pasokan,” ujarnya, di sela konfrensi pers menyambut Hari Kopi Internasional, di RnB Setos Gajahmada Semarang, Rabu (21/9).
Pria yang juga pemilik PT Taman Delta Indonesia, satu produsen kopi, itu menuturkan, langkah yang perlu dilakukan antara lain dengan mengimpor kopi, tetapi jumlahnya harus tetap dibatasi.
Dalam kesempatan yang sama, Dir Industri Minuman Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementrian Perindustrian, Willem Petrus Riwu mengatakan, permintaan biji kopi dan kopi olahan Indonesia terus meningkat.
Tidak hanya dari negara lain, menurut dia, konsumsi kopi dalam negeri pun kini juga meningkat seiring dengan menjamurnya kedai-kedai kopi.
Ekspor lebih besar
"Saat ini, produksi kopi Indonesia ada di angka 731 ribu ton, sementara kopi yang diekspor mencapai lebih dari 400 ribu ton. Sehingga, jumlah kopi yang diekspor lebih besar dibandingkan dengan konsumsi dalam negeri,” jelasnya.
Willem menyatakan, permintaan kopi terbesar dari Indonesia tercatat dari Amerika, khususnya biji kopi yang mencapai 60 persen.
Dua jenis kopi yang paling banyak diekspor yakni robusta dan arabica.
Jumlah ekspor kopi Indonesia ke beberapa negara pada 2015, dia menambahkan, mencapai 356 juta dollar AS, atau tumbuh 8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Permintaan ekspor tahun depan diperkirakan bakal jauh lebih tinggi, seiring dengan pertumbuhan konsumsi kopi dan perkembangan bisnis kedai kopi yang menjamur di berbagai negara," jelasnya.
Dengan kondisi itu, Willem mengungkapkan, Indonesia perlu melakukan impor kopi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama dari Vietnam. Hal itu dilakukan agar Indonesia bisa terus tetap mengekspor kopi ke beberapa negara, baik Asean, Amerika, bahkan Eropa.
Adapun, jumlah impor biji kopi yang dilakukan Indonesia pada 2015 tercatat mencapai 15 ribu ton, jauh lebih tinggi dari kondisi pada 2010 sebesar 5 ribu ton. Willem pun memprediksi jumlah impor biji kopi Indonesia akan terus meningkat di tahun depan. (TRIBUNJATENG/Cetak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kopi-slamet_20160828_183134.jpg)