Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Kegigihan Ayu, Mahasiswi Unnes Semarang yang Pecahkan Rekor PON di Jabar

Kerja kerasnya tiap pagi dan sore berlatih dalam program latihan berat selama sembilan bulan terakhir akhirnya membuahkan hasil.

Tayang:
Penulis: m alfi mahsun | Editor: a prianggoro
TRIBUN JABAR/Bukbis Candra
Lifter Putri Jawa Tengah Permatasari Diah Ayu berhasil meraih medali emas angkat besi Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Gor Sabilulungan Kabupaten Bandung, Kamis (22/9/2016). TRIBUN JABAR/Bukbis Candra Ismet Bey 

TRIBUNJATENG.COM- Berulang kali Dyah Ayu Permatasari mendapatkan selamat dan jabat tangan usai dikalungi medali emas, Kamis (22/9) siang, di Gelora Sabilulungan Soereang, Bandung, Jawa Barat.

Bibir lifter putri Jawa Tengah ini melengkung ke atas lalu berucap terimakasih di sela-sela Tribun Jateng melakukan wawancara. Dara kelahiran Semarang, 3 Juni 1995 ini memang tengah bahagia.

Sebab di hari itu selain meraih emas Pekan Olahraga Nasional (PON) cabang olahraga angkat besi kelas 75 kilogram, Ayu juga memecahkan rekor nasional yang dibuat atlet asal Bali Shinta Darmariani di PON XVI 2004 Sumatera Selatan.

Sudah tak ada rasa kecewa yang dia rasakan setelah sebelumnya gagal tampil di Olimpiade Rio de Jainero Agustus lalu di cabor dan kelas yang sama.

Kerja kerasnya tiap pagi dan sore berlatih dalam program latihan berat selama sembilan bulan terakhir akhirnya membuahkan hasil.

"Saya senang dan bangga, perjuangan selama ini terbayar tuntas. Bermodal yakin, puji syukur saya bisa berikan yang terbaik bagi provinsi ini dan tambahannya bisa memecahkan rekor nasional. Ini akan jadi pemacu saya untuk meraih cita-cita sebagai juara dunia lifter putri asal Indonesia," ujar Ayu, mahasiswi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Dia meraih medali emas di kelas 75 kilogram putri dengan mengangkat beban 103 kilogram pada jenis angkatan snatch dan clean and jerk seberat 120 kilogram.

Perolehan itu melampaui angkatan Shinta Darmariani, dengan berat 100 kilogram pada jenis angkatan snatch. Sementara itu, medali perak diraih lifter Jawa Barat Halimah Tusadiah dan medali perunggu diperoleh lifter Lampung Betti Feriyani.

"Motivasi saya saat bertanding adalah keluarga. Saya ingin membahagiakan mereka dengan raihan emas ini. Apalagi dari PABBSi Jateng menjanjikan bonus rumah bagi peraih emas. Ini salah satu yang membuat saya sangat gembira hari ini. Kemenangan ini saya persembahkan untuk Ibu saya, Bu Faridan dan almarhum bapak, Pak Susanto," imbuhnya.

Ini merupakan medali emas pertamanya di PON. Dia mengatakan raihan ini merupakan batu loncatannya untuk mencapai cita-cita yang dia impikan.

"Pertengahan 2015 lalu saya berharap bisa jadi wakil Indonesia di Olimpiade setelah ikut pra-Olimpiade di Amerika Serikat. Namun PB PABBSI tidak memberangkatkan saya yang satu-satunya di kelas 69 kilogram saat itu ke Brasil. Rasa kecewa ada tapi saat ini sudah saya bayar lunas dan buktikan dengan raih emas dan rekor baru di PON ini," cerita Ayu.

Atlet binaan klub Riu Gym Semarang ini menyukai angkat besi sejak duduk di bangku SMP karena dorongan kedua orangtuanya. Kegigihannya dalam berlatih dua kali sehari tiap pagi dan sore akhirnya berbuah kebahagiaan.

Prestasi sudah dibuktikannya sejak remaja. Pada usia 16 tahun dia telah meraih dua medali emas di kejuaraan angkat besi di Australia tahun 2011. Berlanjut di 2015 sebelum berangkat ke pra-Olimpiade, dengan meraih dua medali perak di Thailand.

"Ini awal dari jalan saya. Cita-cita saya ada di angkat besi ini," tegasnya.

Ayu sudah tidak ada kelas yang akan diikutinya di PON XIX Jawa Barat. Setelah ini dia akan menunggu lanjutan pelatnas dan agenda kejuaraan angkat besi nasional maupun internasional. (TRIBUNJATENG/Cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved