Jembatan Besi Terbang Seperti Layangan Tewaskan Tiga Orang
Jembatan Besi Terbang Seperti Layangan Tewaskan Tiga Orang
TRIBUNJATENG.COM - Jembatan penyeberangan orang (JPO) yang terbuat dari besi baja, lepas dari rangkanya dan terbang seperti layangan. Peristiwa ini terjadi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (24/9) sekitar pukul 15.30 WIB, saat kawasan itu dilanda hujan deras disertai angin kencang.
Musibah ini menewaskan tiga orang, yakni seorang bocah perempuan berusia sekitar delapan tahun dan seorang bocah laki-laki berusia sekitar empat tahun. Hingga sekitar pukul 20.30 WIB, identitas kedua bocah tersebut belum diketahui. Korban tewas lainnya adalah seorang perempuan dewasa yang diidentifikasi sebagai Lilis Lestari Pancawati, warga Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.
Saksi mata, Wahyu (42) mengatakan, di tengah hujan deras yang disertai angin kencang, pagar dan atap jembatan penyeberangan orang (JPO) di atas terowongan Pasar Minggu, terlihat bergoyang-goyang. "Pagar jembatan bergoyang‑goyang seperti layangan terkena angin. Lalu besi‑besi penyangga atap JPO rontok ke sebelah selatan," katanya.
Saat kejadian, Wahyu sedang berteduh di dekat Stasiun KA Pasar Minggu yang terletak di sebelah utara JPO. Wahyu mengaku, dari tempatnya berteduh, ia melihat langsung proses jembatan tertiup angin hingga roboh ke badan jalan di terowongan.
Seorang petugas Stasiun KA Pasar Minggu mengatakan, robohnya JPO menimbulkan suara gemuruh yang mengalahkan suara hujan. "Suaranya menggelegar dan sampai bergetar," katanya. Lepasnya badan dan atap JPO menyisakan gelagar yang membentang antara sisi timur dan sisi barat Jalan Raya Pasar Minggu.
Korban luka pada musibah ini di antaranya adalah Didi, warga Serang, Banten, dan Sahlan, warga Pasar Minggu. Keduanya adalah pedagang di pasar yang sore itu telah selesai berjualan dan hendak pulang ke rumah kos.
Perjalanan Didi dan Sahlan terhadang hujan deras. Keduanya memutuskan berteduh di JPO karena jembatan penyeberangan itu memiliki atap. Tiba-tiba, badan JPO bergoyang dan dalam waktu yang cepat, badan jembatan terangkat lalu terempas ke jalan. Didi dan Sahlan terluka dan dirawat di rumah sakit.
Saksi mata, Fadil (44) mengatakan, korban tewas Lilis Lestari Pancawati adalah pengendara motor Honda Beat B 3914 EGA. Lilis yang mengendarai motor menuju Depok atau arah selatan, tertimpa badan jembatan yang lepas dari gelagarnya.
Menurut Fadil, badan dan atap jembatan sempat terayun-ayun mengikuti tiupan angin. "Jadi sempat ngayun seperti ayunan. Setelah itu baru roboh," ucap pria berambut pendek itu.
Fadil mengaku sempat ikut menolong Lilis dan motornya yang tertindih badan JPO. Ketika ditanya soal anak kecil yang menjadi korban, dia menduga bocah tersebut termasuk orang-orang yang berteduh ataupun melintas di JPO. "Yang anak kecil kayaknya jatuh bareng pejalan kaki yang satu lagi," ungkapnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengatakan, JPO ambruk karena pagar JPO dipenuhi reklame. Papan reklame itu juga menghambat aliran angin.
"Penyebab utamanya karena terlalu dipenuhi reklame. Seharusnya tidak ada papan reklame supaya angin bisa lewat. Reklame kena angin hingga menyeret atap lalu rubuh ke bawah," papar Djarot yang ditemui di lokasi kejadian, Sabtu sore.
Djarot menjelaskan JPO Stasiun Pasar Minggu ini telah berdiri sejak 2002 dan perawatan terakhir dilaksanakan tahun 2012.
Untuk mencegah peristiwa serupa, Pemprov DKI telah meminta pengecekan terhadap seluruh JPO. "Saya sudah perintahkan segera audit 307 JPO di DKI Jakarta. Ini harus segera dilakukan karena sudah memasuki musim pancaroba atau menuju musim hujan," ujarnya. (wartakota/bin/zal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/jembatan-ambruk_20160924_211222.jpg)