Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Misteri Kopi Sianida

Inilah Mimpi Buruk Jessica Sebelum Mirna Meninggal

Saya tidak mengerti mengapa hal ini menimpa saya dan keluarga. Apapun yang saya lakukan selalu menjadi cibiran bagi masyarakat

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Terdakwa Jessica Kumala Wongso menjalani sidang lanjutan dengan agenda pembacaan tuntutan, di PN Jakarta Pusat, Rabu (5/10/2016). Sebelumnya jaksa penuntut umum mendakwa Jessica dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan penjara 20 tahun, seumur hidup atau hukuman mati terkait kasus dugaan pembunuhan dengan racun terhadap Wayan Mirna Salihin. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Air mata terdakwa Jessica Kumala Wongso tumpah dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kemayoran, Rabu (12/10).

Jessica menangis tersedu saat membacakan nota pembelaan (pleidoi) yang ditulisnya sendiri.

Pledoi yang dibacakan selama kurang lebih 12 menit tersebut merupakan gambaran isi hatinya sejak Wayan Mirna Salihin meninggal 6 Januari 2016 silam, setelah meminum kopi di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta.

Jessica mengatakan, hidupnya menderita seusai Mirna meninggal dan dirinya dituduh sebagai pembunuh.

"Saat Mirna meninggal, mimpi buruk saya dan keluarga saya dimulai," kata Jessica yang membacakan pleidoinya dengan posisi berdiri di depan kursinya.

"Saya tidak mengerti mengapa hal ini menimpa saya dan keluarga. Apapun yang saya lakukan selalu menjadi cibiran bagi masyarakat," ujarnya.

Ia menceritakan, satu contoh ketika banyak masyarakat dan wartawan yang mendatangi rumahnya membuat ia tidak betah dan memilih untuk pergi ke hotel guna menenangkan diri.

"Masyarakat banyak yang bilang kalau saya hendak kabur, padahal saya hanya berusaha mencari ketenangan yang tidak bisa lagi saya dapatkan di rumah," tuturnya

Kemudian, ketika dirinya ditangkap dan dipaksa mengakui pembunuhan terhadap temannya sendiri.

"Tekanan apapun yang saya terima tidak akan pernah bisa membuat saya mengakui hal yang tidak saya lakukan," tegasnya sambil tersedu.

"Saya sadar kalau tidak ada yang bisa luput dari kehendak Tuhan Yang Maha Esa, walau bagaimanapun juga, saya tidak membunuh Mirna," tambahnya.

Seperti sampah

Kemarin, Jessica juga menceritakan pengalaman terberat ia rasakan ketika melakukan rekonstruksi di Kafe Olivier yang membuatnya merasa sangat tertekan.

Sejak Mirna meninggal, Jessica menyebut hidup keluarganya dipojokkan dan menderita. Banyak orang yang mendatangi rumahnya hingga berselisih dengan saudaranya.

"Setibanya di sana, saya melihat banyak sekali polisi baik di luar ataupun di dalam gedung. Apapun tujuan mereka, itu sudah berhasil mengintimidasi saya dengan memakai baju tahanan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan. Saya mendapatkan tatapan sinis dari semua orang," tuturnya tersedu-sedu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved