Warga Grobogan Ini Bak Tersirep Rela Serahkan Uang dan Sudah 4 Tahun Ikut Dimas Kanjeng
Sudah empat tahun ini korban meninggalkan keluarganya di Desa Tegowanu Wetan, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan.
Penulis: puthut dwi putranto | Editor: Catur waskito Edy
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Puthut Dwi Putranto
TRIBUNJATENG.COM, GROBOGAN -- Satu lagi seorang warga di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah telah menjadi pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi.
Sudah empat tahun ini korban meninggalkan keluarganya di Desa Tegowanu Wetan, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan.
Munasiroh (40), hanya bisa pasrah menunggu kedatangan suaminya, Masrum (50), yang telah tanpa pesan meninggalkan dirinya dan keempat anaknya. Masrum disebut-sebut berada di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo, Jawa Timur.
"Empat tahun lalu beberapa teman suami saya datang ke rumah. Mereka terus merayu suami saya agar mau ikut ke Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo," ungkap Munasiroh kepada Tribun, Kamis (20/10/2016) sore.
Menurut Munasiroh, suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan itu semula tak begitu menggubris ajakan teman-temannya. Entah itu saat ditunjukkan foto-foto Dimas Kanjeng bersama pejabat-pejabat di Indonesia, maupun iming-iming lainnya.
"Namun saat diperlihatkan uang yang banyak di dalam peti, iman suami saya mulai goyah. Sejak itulah saya kehilangan kontak dengan suami. Pergi juga nggak pamit dan nggak ngasih kabar apapun. Saat itu suami saya disuruh membawa uang Rp 2 juta untuk pendaftaran. Uang itu katanya akan digandakan hingga miliaran," kata Munasiroh.
Selama ditinggal suaminya, Munasiroh tidak dinafkahi. Munasiroh akhirnya mengajar di MI Tegowanu untuk menyambung hidup. Munasiroh berharap agar Masrum sadar sehingga bisa kembali pulang berkumpul dengan keluarga.
"Ini ajaran sesat. Ajaran ini membuat seseorang lupa akan keluarga dan melupakan tanggungjawab sebagai manusia. Pulang lah mas, kami menunggumu," pungkas Munasiroh.
Sementara itu Kepala Desa Tegowanu Wetan, Slamet, menjelaskan, beberapa waktu lalu atas keinginan keluarga, dirinya bersama warga berupaya menjemput Masrum di Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo. Mereka mengajak Masrum supaya mau pulang ke rumah.
"Namun Masrum ngotot tidak mau pulang ke rumah. Masrum beralasan masih menunggu pencairan uangnya. Selama empat tahun, Masrum sudah menyerahkan uangnya Rp 30 juta untuk digandakan kepada Dimas Kanjeng. Dia masih percaya bulan ini uangnya cair hingga miliaran rupiah," terang Slamet.
Dari penuturan Masrum kepada Slamet, uang hasil penggandaan tersebut nantinya akan digunakan untuk menyantuni anak yatim, fakir miskin dan untuk kesejahteraan masyarakat.
"Intinya uangnya nanti tidak untuk dirinya, tapi untuk kemakmuran semua masyarakat. Kami sudah menasehati jika itu tidak benar, tapi Masrum etap ngeyel. Kami berharap kepada pemerintah agar memulangkan semua pengikut Kanjeng Dimas. Diberikan pemahaman atau bagaimana. Banyak sekali jumlah pengikutnya di Padepokan Dimas Kanjeng mas," terangnya.
Kapolres Demak, AKBP Agusman Gurning, mengatakan, sejauh ini sudah ada sejumlah warga yang melapor telah kehilangan anggota keluarga. Mereka yang menghilang ini diduga kuat berada di Padepokan Dimas Kanjeng.
"Ada tujuh warga Grobogan yang diduga berada di Padepokan Kanjeng Dimas. Itu hasil laporan keluarga mereka. Untuk saat ini yang tertipu akan digandakan oleh Dimas Kanjeng, ada belasan yang melapor dan jumlah total uangnya mencapai miliaran. Kami masih mendalami dan menyelidiki kasus ini," kata Agusman. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/munasiroh-suaminya-pengkitu-dimas-kanjeng_20161020_191958.jpg)