Lebih Dekat Penggagas Rumah Belajar di Kampung Tenggang Gayamsari
Himpitan ekonomi dan kondisi yang kurang bersih menjadi gambaran kehidupan di pesisir, tepatnya di Kampung Tenggang, Gayamsari.
Penulis: galih priatmojo | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Himpitan ekonomi dan kondisi yang kurang bersih menjadi gambaran kehidupan di pesisir, tepatnya di Kampung Tenggang, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Kondisi ini memaksa anak-anak yang tumbuh di lingkungan tersebut seolah terbengkelai dan luput dari perhatian.
Melihat potret kehidupan tersebut, Sikha Amna dan ketiga temannya prihatin. Apalagi, keempatnya juga tumbuh besar di kawasan pesisir. Seolah memahami pentingnya pendidikan, mereka tergugah dan terdorong mendirikan Rumah Belajar, tempat anak-anak tersebut belajar secara serius.
"Kami sudah berjalan sekitar empat tahun. Artinya, sudah ada tiga generasi yang memanfaatkan Rumah Belajar. Beberapa (anak) sudah beranjak ke jenjang SMP dan beberapa masih duduk di bangku SD," ungkap Sikha.
Perempuan kelahiran 3 Januari 1990 ini mengungkapkan, wilayah pesisir didominasi keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan atau buruh. Aktivitas orangtua yang fokus mencari uang seringkali membuat pendidikan anak-anak mereka telantar. Saat besar, mayoritas anak-anak mengikuti jejak orangtua, sebagai buruh atau nelayan.
"Lingkungan seperti itu sangat tidak mendukung untuk tumbuh kembang anak. Belum lagi, bahaya peredaran narkoba yang mengintai. Kami berharap, Rumah Belajar dapat membantu memberi pendidikan layak bagi anak-anak agar masa depan mereka cerah," harap Sikha.
Awal merintis, Rumah Belajar merupakan kelompok belajar yang melibatkan beberapa mahasiswa sebagai mentor. Meski begitu, antusias anak-anak di Kampung Tenggang cukup baik. Saat pertama dibuka, ada 30 anak yang ikut belajar.
Beruntung, kegiatan Rumah Belajar mendapat perhatian warga. Seorang warga mengizinkan Sikha dan teman-teman memanfaatkan lantai dua tempat tinggalnya untuk kegiatan Rumah Belajar. Sejak saat itu, kegiatan Rumah Belajar lebih sistematis lewat program tiga bulanan yang disusun.
"Ada warga, namanya Pak Sudiasto, yang mengizinkan kami berkegiatan di lantai dua rumahnya. Kami gunakan ruangan itu untuk membuka kelas dan perpustakaan," ungkap perempuan yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di SMP IT Insan Cendekia ini.
Sikha tetap melibatkan mahasiswa yang juga tergerak hatinya memberi pendidikan kepada anak-anak di Kampung Tenggang. Seminggu dua kali, Senin dan Jumat, mereka mengajar di Rumah Belajar. Menurut Sikha, mahasiswa yang terlibat berasal dari beberapa kampus di Kota Lumpia, di antaranya mahasiswa dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Semarang (USM).
Selain melengkapi pendidikan yang didapat anak-anak dari sekolah, fokus kegiatan Rumah Belajar adalah pendidikan karakter dan moral. Sikha menyebut, dua hal ini merupakan dasar penting menciptakan generasi muda yang bermartabat.
"Kendala awal adalah lingkungan yang kotor dan pergaulan yang kurang baik. Lewat pendidikan karakter dan moral, kami ajak mereka mulai peduli lingkungan. Kalau biasanya bermain di sungai yang kotor atau bicara kasar, itu tidak boleh lagi dilakukan. Kami ajak mereka membuang sampah ke tempatnya, belajar bertutur sapa yang sopan. Bersama Karangtaruna, secara berkala kami juga mengadakan bersih kampung," imbuhnya.
Seminggu dua kali, Senin dan Jumat
Sikha bersyukur, semangat anak-anak belajar tinggi. "Pernah, saat pelajaran, kawasan Tenggang kena rob. Bahkan, motor kami hampir tenggelam. Tetapi, kegiatan di Rumah Belajar tetap berjalan karena kami menghargai anak-anak yang bersemangat tinggi. Makanya, semangat kami tak boleh kalah dari mereka," ucapnya.
Satu pengalaman yang membekas di hati Sikha, saat dia dan teman-teman di Rumah Belajar berhasil membantu seorang bocah bernama Sasa, sekolah. Lahir dari keluarga yang kurang mampu membuat hak Sasa mendapat pendidikan layak tak terpenuhi. Sikha dan teman-teman akhirnya melobi orangtua Sasa dan mengumpulkan dana hingga akhirnya Sasa duduk di bangku sekolah formal.
"Kalau ada anak sekolah lewat di depan rumah, Sasa sembunyi karena takut (dia tidak sekolah). Setelah kami bujuk orangtua dan swadaya teman-teman di Rumah Belajar, sekarang Sasa sudah sekolah. Senang rasanya bisa bermanfaat bagi orang lain," kata Sikha bangga.
Sikha mengaku, jiwa sosial ditularkan sang ayah. Perempuan asal Bonang, Kabupaten Demak, ini sering melihat ayahnya aktif dalam kegiatan sosial bersama teman-teman nelayan di Bonang. "Beliau juga sering berpesan agar bisa berbagi dan bermanfaat bagi lingkungan. Itu yang memotivasi saya saat melihat teman-teman di Kampung Tenggang. Kami berpikir, harus melakukan hal yang meski kecil tetapi bisa memberi perubahan," ujarnya.
Selain aktif di Rumah Belajar, Sikha juga pengurus di Yayasan Doa Ahlul Quran. Saat ini, dia bersiap membangun pondok pesantren tahfiz yang rencananya dibangun di kawasan Boja, Kabupaten Kendal. Pondok ini utamanya mewadahi para penghafal quran. (tribunjateng/gon)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/melihat-potret-kehidupan-tersebut-sikha-amna-dan-ketiga-temannya-prihatin_20161030_163558.jpg)