Gusdurian dan Pegiat Keberagaman Ziarahi Makam Mbah Sholeh Darat Dan MGR Soegijapranata

Peringati pekan Hari Toleransi Internasional 16 November, para pemuda yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian Kota Semarang

Gusdurian dan Pegiat Keberagaman Ziarahi Makam Mbah Sholeh Darat Dan MGR Soegijapranata
istimewa
Peringati Hari Toleransi Internasional, Jaringan Gusdurian Kota Semarang, bersama pegiat keberagaman kota Semarang, berziarah ke makam Mbah Sholeh Darat dan makam MGR Soegijapranata di taman makam pahlawan Giri Tunggal, Kamis, (17/11/2016). 

Lapotran Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Peringati pekan Hari Toleransi Internasional 16 November, para pemuda yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian Kota Semarang bersama pegiat keberagaman kota Semarang, berziarah ke makam Mbah Sholeh Darat, Kamis, (17/11/2016).

Mbah Sholeh Darat merupakan tokoh Ulama kharismatik Semarang yang merupakan guru dari dua tokoh bangsa sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama yaitu KH Hasyim Asy'ari dan pendiri Muhammadiyah yakni KH Ahmad Dahlan.

Koordinator Jaringan Gusdurian Semarang, Subhan mengatakan, selain Gusdurian, pihak yang terlibat dalam kegiatan ini antaralain PMII Kota Semarang, KPS, Pelita, PPMI DK Semarang, LBH, rumah pelangi, komunitas payung, paguyuban pedagang kaki lima dan Permahi.

Usai berziarah ke makam Mbah Soleh Darat, dilanjutkan berziarah ke taman makam pahlawan Giri Tunggal di makam MGR Soegijapranata.

Ikut serta dalam rombongan, yaitu Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloys Budi Purnomo.

Melalui siaran pers yang diterima Tribunjateng.com, Jumat (18/11/2016), Subhan menjelaskan, peringatan Hari Toleransi ini menjadi ironi.

Karena dibarengi dengan beberapa tragedi intoleran di beberapa daerah.

"Yang paling menyayat hati adalah wafatnya 'Intan' yang menjadi korban ledakan Bom di Samarinda," katanya.

Menurutnya, digelarnya kegiatan ini adalah untuk memelihara toleransi di Indonesia yang kian mendapat tantangan.

Diharapkan, melalui ziarah dan tabor bunga bersama ini Bhinneka Tunggal Ika tetap terjaga.

Setelah kegiatan berziarah, pekan peringatan hari toleransi internasional akan dilanjutkan dengan diskusi dan nonton film tentang keberagaman, aksi damai dan deklarasi bersama.

Hari Toleransi Internasional hendaknya menjadi refleksi keberagaman warga Indonesia.

"Negara harus mampu berperan aktif dalam menjaga keberagaman. Bubarkan ormas intoleran dan tutup website dan akun media sosial intoleran agar bisa melindungi kelompok minoritas," sambungnya.

"Semoga benih-benih perdamaian dan kerukunan melalui perjumpaan seperti ini terus mewarnai dan menandai kesejukan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika," tambah Romo Budi. (*)

Penulis: m nur huda
Editor: galih pujo asmoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved