Jelajah Museum dan Sejarah
Mengenang Heroisme Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan di Museum Palagan Ambarawa
Di monumen ini juga ditampilkan patung Jenderal Sudirman di sebelah selatan. Di sebelah utara ada patung Gatot Subroto
TRIBUNJATENG.COM - Para pejuang di negeri ini masih merasa gusar usai proklamator Indonesia, Soekarno dan Hatta mengumandangkan kemerdekaan. Pasalnya, Jepang tumbang karena diserang sekutu pada zaman Perang Dunia II. Sekutu beranggapan, mereka bebas menduduki daerah-daerah yang sempat dijajah Jepang, salah satu Indonesia. Dari sinilah tercetus zaman revolusi kemerdekaan.
Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan Indonesia agar tidak direbut kembali oleh sekutu. Rakyat tidak terima jika sekutu berkuasa lagi.
“Ambarawa, menjadi salah satu Palagan (medan perang). BKR, TKR, dan AMRI memerangi tentara Inggris. Pertempuran melawan sekutu itu berlangsung dari 20 November 1945 hingga 15 Desember 1945,” ujar Koordinator Museum Isdiman dan Monumen Palagan Ambarawa, Sudirin.
Sudirin menjelaskan, meletuslah Serangan Umum pada 12 Desember 1945 hingga 15 Desember 1945. Kolonel Sudirman didapuk menjadi pemimpin pasukan Indonesia di Ambarawa. Rakyat ikut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Tekad yang terus dipegang kala itu adalah lebih baik mati daripada dijajah kembali. Rakyat tak sudi menerima perlakuan menindas dari penjajah. Keberhasilan pun direguk para pejuang Indonesia. Para sekutu bertekuk lutut dan harus berhadapan dengan kekalahan. Kemenangan diperoleh pejuang Indonesia yang memukul mundur sekutu.
“Dari analisis dan pikiran nalar, tak masuk akal bila pejuang Indonesia sukses membuat sekutu angkat kaki,” kata Sudirin.
Perbekalan persenjataan yang dipakai sekutu jumlahnya lebih banyak dan canggih dibandingkan senjata yang digunakan pejuang Indonesia.
Ternyata, siasat yang tepatlah yang membuat pejuang Indonesia berhasil menumpas para sekutu. Ditambahkan Sudirin, para pejuang hanya bermodal senjata bambu runcing yang sudah diberi mantra doa oleh Kyai Parak dari Temanggung.
Selain itu, Kolonel Sudirman menerapkan taktik supit udang. Taktik ini berupa pengepungan yang dilakukan TKR, BKR, dan AMRI untuk menjepit musuh alias sekutu.
Kini, Monumen Palagan Ambarawa didirikan untuk mengenang heroisme para pejuang yang kukuh menentang kedatangan para sekutu. Kemerdekaan tidak bisa diganggu gugat kembali.
Monumen Palagan Ambarawa dibangun pada 15 Desember 1973 yang diawali peletakan batu pertama oleh Deputi KASAD Letjen Sayidiman. Satu tahun berikutnya, yakni pada 15 Desember 1974 Presiden Soeharto meresmikan monumen yang menelan biaya sebesar Rp 105 juta ini.
Ukuran monumen ini sendiri melambangkan hari kemerdekaan Indonesia. Diterangkan Sudirin, tinggi tugu yaitu 17 meter. Ada dua tugu di monumen ini. Jarak antar tugu yakni 0,8 meter. Sedangkan panjang altar yang membentang dari selatan ke utara yakni 45 meter. Angka-angka tersebut bila digabungkan akan membentuk rangkaian 17-8-45.
Di monumen ini juga ditampilkan patung Jenderal Sudirman di sebelah selatan. Di sebelah utara ada patung Gatot Subroto. Di depan tugu berdiri tiga patung. Patung tengah yakni sosok Isdiman, prajurit kepercayaan Sudirman.
Isdiman diapit dua orang prajurit yang belum diketahui namanya. Mereka adalah tokoh sejarah yang berperan penting di Ambarawa dalam merebut kembali kemerdekaan.
Pengunjung juga bisa mengikuti alur pertempuran di Ambara melalui relief yang tergambar di monumen. Relief tersebut mengisahkan jejak proklamasi kemerdekaan Indonesia, Indonesia bangkit kembali, perebutan senjata dari tangan Jepang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/monumen-palagan-ambarawa_20161124_140451.jpg)
