Destinasi Jateng
Di Pantai Jodo, Pemandangan Kereta Api Bersanding dengan Birunya Hamparan Laut Bikin Merinding
Ada pula keindahan bukit yang dibeton dengan rimbunan pepohonan di atasnya
TRIBUNJATENG.COM - Bagi Anda yang kerap berpergian menggunakan kereta api dari Semarang menuju Jakarta atau tujuan sebaliknya pasti tidak asing lagi dengan pemandangan pantai yang terhampar ketika memasuki wilayah Batang.
Pantai yang disaksikan dari kaca jendela kereta api itu seolah tak berjarak dengan laut. Ada pula keindahan bukit yang dibeton dengan rimbunan pepohonan di atasnya.
Anda bisa melihat lebih dekat pemandangan seperti itu dengan menyambangi Pantai Jodo yang terletak di Dukuh Buntusari, Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang.

Tulisan pantai jodo menjadi ikon wisata dan berselfie
“Salah cerita yang beredar kalau Pantai Jodo dikaitkan dengan pasangan. Menurut almarhum kepala dukuh sini, Mbah Jono, nama Jodo itu berasal dari kebiasaan orang dulu. Tiap orang yang sakit, mandi di sini sambil berdoa. Mereka sembuh. Kalau kata orang Jawa, jodo alias cocok makanya dikasih kesehatan,” terang Sekretaris Kelompok Sadar Wisata Pantai Jodo, Fadholi.
Fadholi membeberkan, pantai ini juga dijuluki dengan nama Pantai Buntu karena terletak di Dukuh Buntusari. Dukuh ini merupakan dukuh terujung yang berbatasan langsung dengan laut.
Dituturkan Fadholi, beredar cerita turun-temurun yang beredar kalau penduduk yang bermukim di dekat pantai ini dulunya berprofesi sebagai petani melati.
Para penduduk juga mempunyai kebiasaan mengarak makanan dari hutan yang berada di atas desa ini lalu menuruni bukit menuju pantai yang dulu belum diketahui keindahannya. Baru pada tahun 1980-an, masyarakat menyadari potensi keindahan pantai Jodo.
Pantai Jodo mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1990. Pohon cemara ditanam untuk memperindang kawasan pantai pada tahun 2001.
Sebagian lahan di pantai yang dikelola Pokdarwis ini merupakan milik Akadami Militer di Magelang.
Dikatakan Fadholi, para calon perwira tentara turut digembleng di tempat ini.
Fadholi pun mengingatkan para pengunjung yang kerap penasaran memandangi keindahan pantai dari atas dinding beton cor. Diterangkan Fadholi, tingkah pengunjung tersebut menimbulkan kerawanan lantaran jalur rel ganda yang harus diseberangi pengunjung tidak berpalang.
Berbahaya apabila pengunjung tidak buru-buru menuju tepian rel dan tidak menoleh kanan kiri karena kereta bisa sewaktu-waktu melintas.
“Itu kan sudah di luar kawasan pantai sebenarnya. Dinding beton cor itu merupakan proyek double track PT KAI. Untuk mengantisipasi bukit di atasnya longsor. Eh malah jadi daya tarik sendiri. Apalagi bagi anak muda yang suka sesuatu yang menantang,” papar Fadholi.
Untuk mencapai tebing dinding cor, pengunjung harus menyusuri garis pantai ke arah kiri dari arah pintu masuk. Sekitar 300 meter, pengunjung akan menemui jembatan selebar 50 sentimeter.
Kendaraan pengunjung diparkirkan di samping warung makan berdinding kayu, satu-satunya warung makan di tepi rel. Berjalan kaki menyusuri pinggiran rel menjadi cara yang bisa ditempuh bagi Anda yang tak ingin memanjat dinding cor untuk menikmati keindahan pantai dari ketinggian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pengunjung-bisa-berfoto-dengan-latar-kereta-yang-melintas-dan-laut_20161212_100119.jpg)
