Tracking Mangrove Bikin Pengunjung di Puri Maerokoco Naik Enam Kali Lipat
Sebagai langkah awal, ia menggarap barisan mangrove yang sudah ditanam sejak delapan tahun lalu
TRIBUNJATENG.COM - Sejak setahun lalu, Komisaris Utama PT PRPP Agus Utomo bersama jajaran manajemen memikirkan menghidupkan Puri Maerokoco. Konsep Grand Maerokoco muncul dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Sebagai langkah awal, ia menggarap barisan mangrove yang sudah ditanam sejak delapan tahun lalu. Pihaknya membangun replika tracking mangrove pulau Karimunjawa yang kemudian jadi viral.
"Hasilnya luar biasa. Dulu paling dalam sehari cuma dikunjungi 200 pengunjung, sekarang 1.200-an," ucap staf penugasan khusus Pemprov Jateng itu.
Agus mengakui merevitalisasi Puri Maerokoco tidak mudah. Banyak pekerjaan rumah yang harus selesai antara lain membenahi seluruh anjungan, hingga menambah wahana baru.
Keterbatasan dana membuat revitalisasi Puri Maerokoco tidak bisa sekali jalan. Tahap awal, ia menggunakan Rp 3 miliar dari seluruh kebutuhan Rp 5 miliar.
Ia menargetkan Maerokoco melalui Grand Maerokoco yang bakal diresmikan Mei 2017 bakal hidup lagi. Bahkan, jadi tempat wisata unggulan Jateng. "Kalau mau keliling Jateng ke sini saja," katanya.
Berharap hidup lagi
Proses rebranding Taman Mini Jawa Tengah Puri Maerokoco menjadi Grand Maerokoco membuat kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jateng, Urip Sihabuddin, tersenyum. Ia berharap perubahan itu berdampak positif bagi perkembangan pariwisata di Jateng.
"Harapannya setelah ini (Grand Maerokoco) jadi destinasi unggulan Jateng dan memperkaya destinasi kota semarang," kata mantan Kepala Bappeda Jateng itu.
Ia secara khusus memberi apresiasi keberadaan tracking mangrove yang melambungkan kembali nama Maerokoco. Menurutnya, wisata alam seperti itu yang perlu dikembangkan.
Urip berujar saat ini era wisata alami sedang meningkat. Bahkan, banyak wisatawan baik Nusantara maupun internasional yang lebih suka wisata alami.
Ia menuturkan, wisata alami bukan berarti murni dari alam. Tracking mangrove di Puri Maerokoco bisa jadi contoh. "Meski ada campur tangan manusia tapi intinya ke alam," jelasnya.
Urip berpendapat wisata buatan juga perlu dipertahankan. Namun, wisata buatan bisa dibikin kapan saja. Beda wisata alami yang butuh waktu.
Kepala Bidang Pemasaran Disporapar Trenggono menyatakan Puri Maerokoco merupakan salah satu brand Jateng. Di Indonesia, hanya Jateng yang punya Taman Mini tingkat Provinsi.
Ia menjelaskan, rebranding Puri Maerokoco menurutnya perlu dilakukan. Apalagi efeknya mulai terlihat dengan pembangunan tracking mangrove.
"Jadi menjual Maerokoco tidak harus masuk bangunannya. Tapi warga bisa melihat Maerokoco dari sisi lain, seperti menikmati candi Borobudur dari Pucuk Ketumbu," ujarnya.
Ia berharap Grand Maerokoco tidak hanya tentang rekreasi tapi juga konservasi alam, budaya serta wisata edukasi. Perlu juga berbagai event untuk menghidupkan suatu kawasan seperti Dieng Culture Festival. (Tim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hamparan-mangrove-dan-miniatur-laut-jawa-yang-membentang-di-sekitar-jembatan-cinta-maerokoco_20161125_154516.jpg)