Peringati Hari Bahasa Ibu, Universitas PGRI Semarang Gelar Berbagai Lomba
Peringati Hari Bahasa Ibu, Universitas PGRI Semarang Gelar Berbagai Lomba di Gedung Balairung UPGRIS, Semarang, Selasa (21/2).
Penulis: akbar hari mukti | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) selenggarakan berbagai lomba di Gedung Balairung UPGRIS, Jalan Lontar No. 1, Dr. Cipto, Semarang, Selasa (21/2).
Lomba yang digelar di antaranya Tembang Macapat, lomba Tari Jawa Kreasi Baru, serta lomba Mendongeng.
Para peserta adalah siswa-siswi SMA, MAN serta SMK se-Jawa Tengah.
Aulia Nursi, satu di antara peserta lomba menuturkan bahwa dirinya dan teman-teman senang dengan lomba yang diselenggarakan oleh UPGRIS. Ia pun mengaku, tambah cinta budaya Indonesia lewat ajang seperti ini.
“Saya senang karena ada kegiatan lomba seperti ini. Lomba ini seperti mengajak anak-anak untuk lebih menggali budaya yang mereka kenal. Saya jadi merasa tambah mencintai budaya Indonesia,” ungkapnya kepada Tribun Jateng.
Siswi SMA N 1 Comal yang mengkuti lomba Tari Jawa Kreasi Baru tersebut mengungkapkan, bahwa ia dan timnya akan membawakan Tari Ropyan khas Banyumas. Dirinya menjelaskan mengapa memilih tarian tersebut untuk ditampilkan di lomba.
“Tari Ropyan berasal dari Banyumas. Kami dari Comal namun kami memang telah diajari basic-basic tari Banyumasan, seperti Tari Ropyan ini. Tari Ropyan yang berasal dari tempat lain pun tetap kami pelajari dengan baik karena itu adalah budaya kita juga,” ungkapnya.
Ia pun berharap, agar generasi muda tidak meninggalkan budaya sendiri.
“Budaya kita jangan ditinggalkan, karena kita ditugasi untuk merawat dan menjaga budaya kita sendiri. Makanya jangan sampai kita tinggalkan budaya kita,” harapnya.
Pada kesempatan yang sama, DR Muhdi SH Mhum, Rektor UPGRIS menjelaskan tentang makna kegiatan lomba tersebut.
“Bahwa bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dikenal dan diketahui manusia, kita harus sadar akan hal tersebut. Jadi, lomba-lomba seperti ini saya berharap agar budaya ibu kita dapat terus dilestarikan hingga ke anak cucu,” ujarnya.
Ia pun membeberkan bahwa peserta lomba dibatasi karena keterbatasan waktu.
“Animo besar sekali yang ingin mengikuti, namun kami membatasi peserta lomba. Untuk Tari Jawa 19 tim peserta, tembang macapat 44 peserta, sedangkan mendongeng 19 peserta,” ujarnya.
Muhdi pun berharap, lomba yang rutin diadakan setiap tahun tersebut dapat membuat para peserta menjadi cinta budaya Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/peringati-hari-bahasa-ibu-universitas-pgri-semarang-gelar-berbagai-lomba_20170221_170326.jpg)