Berita Semarang
Psikolog SCU: Pembatasan Medsos Anak Perlu, tapi Penguatan Kontrol Diri Lebih Penting
Kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun oleh pemerintah dinilai perlu, namun bukan menjadi
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun oleh pemerintah dinilai perlu, namun bukan menjadi solusi utama dalam mengatasi dampak negatif dunia digital bagi anak.
Pakar psikologi Soegijaprana Catholic University (SCU), Prof. Dr. Christin Wibhowo, M.Si.,Psikolog menyebut, pembatasan usia sebenarnya bukan hal baru.
Pada awal kemunculan platform seperti Facebook dan Instagram, batas usia pengguna bahkan sempat ditetapkan di atas 17 tahun, sebelum akhirnya semakin longgar seiring waktu.
“Pembatasan itu penting, tetapi sifatnya hanya kontrol eksternal.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak memiliki kontrol dari dalam dirinya sendiri,” ujarnya kepada Tribun Jateng.
Ia mengibaratkan penggunaan media sosial seperti mengelola sebuah taman.
Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya “membangun pagar tinggi”, tetapi harus mengajarkan anak bagaimana cara mengelola taman tersebut dengan baik.
Artinya, anak perlu dibekali kemampuan untuk mengatur diri, memahami kebutuhan, serta menentukan kapan dan bagaimana menggunakan media sosial secara bijak.
Baca juga: Sabu 11 Kg Sabu Bergambar Tikus Siap Edar untuk Pekerja Tambang, Nilai Total Rp20 M
Kebijakan pemerintah, lanjutnya, tetap dibutuhkan sebagai langkah awal untuk membangun kedisiplinan.
Namun, pembatasan usia harus diiringi dengan penguatan peran keluarga melalui edukasi pengasuhan atau parenting.
“Kalau hanya pembatasan tanpa edukasi, anak justru akan mencari celah dan bermain ‘kucing-kucingan’,” katanya.
Ia juga menyoroti pendekatan seragam seperti pembatasan waktu penggunaan, yang dinilai tidak selalu efektif.
Setiap anak memiliki ritme dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan yang terlalu kaku justru kurang tepat.
Di sisi lain, orang tua diminta tidak bersikap terlalu antipati terhadap dunia digital. Berdasarkan pengamatannya, anak dan remaja sebenarnya tidak sepenuhnya menyukai aktivitas online.
Ketika diberikan alternatif kegiatan yang menarik, mereka cenderung lebih memilih aktivitas tatap muka.
tribunjateng.com
pembatasan medsos
Soegijapranata Catholic University
Christin Wibhowo
Muh Radlis
Franciskus Ariel Setiaputra
| Viral Sopir Pengangkut Sampah DLH Kota Semarang Terobos Lampu Merah, Berakhir Kena Sanksi Permanen |
|
|---|
| Sosok Audrianto, Dokter Alumni FK Undip Pimpin Tim Medis Misi Perdamaian PBB di Lebanon |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Kota Semarang Hari Ini Selasa 7 April 2026: Hujan Ringan |
|
|---|
| Demi Selamatkan PPPK, Pemkab Semarang Tahan Formasi CPNS, Blora Pastikan Tak Ada PHK |
|
|---|
| Kabid Damkar Semarang Tegaskan APAR Milik Swasta Boleh Dipakai Siapa Saja Saat Darurat Kebakaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260407_Christin-Wibhow.jpg)