Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Peristiwa Mistis Saat Proses Pemindahan Makam Tan Malaka dari Kediri ke Sumbar

Peristiwa Mistis Saat Proses Pemindahan Makam Tan Malaka dari Kediri ke Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (21/2

Editor: iswidodo
antara
Peristiwa Mistis Saat Proses Pemindahan Makam Tan Malaka dari Kediri ke Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (21/2 

TRIBUNJATENG.COM - Beberapa peristiwa mistis terjadi saat prosesi pengambilan tanah perkuburan Tan Malaka di Kediri, Jawa Timur. Keluarga meyakini hal itu sebagai bentuk kesakralan acara tersebut.

Proses pengambilan gelar adat Datuk Tan Malaka dan tanah perkuburan sebagai pengganti jasad di makam Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, telah dilakukan, Selasa (21/2). Ratusan warga Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat mendatangi makam di lereng Gunung Wilis untuk melakukan upacara adat.

Peristiwa unik pertama terjadi ketika rombongan dan tokoh adat yang dipimpin Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan tiba di salah satu rumah warga di Desa Selopanggung. Rumah terakhir sebelum memasuki kawasan gunung menuju makam ini menjadi tempat singgah peserta upacara untuk bertemu perangkat desa dan Wakil Bupati Kediri Masykuri Iksan.

Baru sejenak mereka duduk, Yusron, remaja peserta rombongan dari Limapuluh Kota, mendadak ngeloyor pergi meninggalkan rekan-rekannya. Dia berjalan sendiri menyusuri jalan setapak yang dipenuhi lumpur menuju kompleks pemakaman desa tempat pusara Tan Malaka. "Semua berfokus pada acara, sehingga kami mengabaikan kepergian dia," kata Ferizal Ridwan, Rabu (22/2).

Hingga acara ramah-tamah dengan perangkat pemerintah Kediri usai, rombongan berjalan menuju makam menyusul langkah Yusron. Begitu tiba di kompleks makam yang menjorok ke ngarai, mereka mendapati Yusron tengah mencabuti rumput. Remaja ini juga telah mencabut tandas hampir seluruh rumput yang berada di area makam.

Ahli waris Tan Malaka berziarah ke makamnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri
Ahli waris Tan Malaka berziarah ke makamnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri (SURYA/DIDIK MASHUDI)

Ketika ditanyai temannya, Yusron justru menyebut nama Mbah Suhut dan beringsut ke sebuah pusara lawas. Menurut warga setempat, lokasi yang ditunjuk Yusron benar merupakan makam Mbah Suhut, sesepuh desa yang meninggal puluhan tahun silam. Hal itu cukup mengejutkan karena sebelumnya Yusron belum pernah berkunjung ke Kediri ataupun ziarah ke makam itu.

Bahkan, saat prosesi pengambilan tanah perkuburan dilakukan ketua adat Minang, Yusron mendadak seperti orang kesurupan. Dia berdiri dari pusara Mbah Suhut sambil berteriak histeris mengucapkan "Minggir" berulang-ulang. Dia meminta jalan kepada orang-orang yang mengerumuni makam Tan Malaka. Setelah diberi jalan dan tiba di dekat pusara Tan Malaka, pemuda itu langsung tersadar dan terlihat bingung.

Saat bertamu di Pondok Pesantren Lirboyo, Selasa malam, Yusron mengaku didatangi seseorang yang menanyakan maksud kedatangan rombongannya. Dia mengira orang tersebut adalah warga setempat. Selanjutnya pria misterius itu meminta Yusron pergi ke makam untuk membersihkan makam dan mencabut rumput. "Saya langsung pergi ke sana," ujarnya.

Keanehan juga terjadi pada peti besi peninggalan orang tua Ibrahim Tan Malaka yang dibawa rombongan pada prosesi. Menurut Ferizal, sejak mengawali keberangkatan dari Limapuluh Kota pada Kamis (16/2), peti itu telah membawa masalah. Setiap kendaraan yang dipergunakan untuk membawa peti itu selalu mengalami gangguan mesin dan peralatan.

Semula peti besi itu diletakkan di bagasi bus yang dipinjam dari Universitas Negeri Padang. Namun, baru tiba di Kabupaten Payakumbuh, mendadak bus mogok. Khawatir menghambat jadwal acara, peti besi dipindahkan ke bus milik perusahaan Semen Padang. Bus ini diketahui paling besar dengan mesin bagus, sehingga selalu memimpin dalam perjalanan tersebut. Entah mengapa, bus ini juga mengalami kerusakan saat membawa peti besi, mulai AC mati hingga mesin terbakar yang membuat laju kendaraan itu tersendat dan tertinggal jauh oleh rombongan. Bahkan, akibat kerusakan itu, perjalanan terpaksa dihentikan semalam untuk mencari kerusakan mesin.

Ferizal mengagumi rangkaian peristiwa mistis itu sebagai kesakralan acara yang dilakukan di makam Datuk Tan Malaka. "Saya justru bangga. Ini menunjukkan acara yang kami lakukan di makam tadi sangat sakral," kata pejabat yang murah tawa ini.

Sementara itu Ferizal berharap pemerintah pusat segera mengembalikan hak-hak kepahlawanan Tan Malaka. Dijelaskan Ferizal Ridwan, Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional oleh Presiden Soekarno melalui Kepres No 53/1963 tertanggal 28 Maret 1963. Menyusul penemuan makam Tan Malaka, sudah seharusnya pemerintah memberikan hak-hak kepahlawanan Tan Malaka. "Kami selaku wakil dari keluarga ahli waris sudah menyakini makam Tan Malaka ada di Desa Selopanggung," jelasnya.

Sementara Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota Safarudin mendapatkan informasi bahwa Kementerian Sosial bakal membangun makam Tan Malaka sesuai standar makam pahlawan nasional. "Termasuk hak-hak keluarganya selaku pahlawan nasional bakal dikembalikan," ungkapnya

Makam Tan Malaka baru diketahui setelah penelitian selama 30 tahun yang dilakukan Harry A Poeze dari Belanda. Hasil penelitian Poeze menemukan jejak makam Tan Malaka di Desa Selopanggung yang pernah menjadi markas pejuang kemerdekaan.

Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatera Barat pada 1894 dan meninggal di Kediri 21 Februari 1949. Dari penelusuran Harry Poeze, kematian Tan Malaka karena dieksekusi Letnan Sukoco dan Letnan Sukaji Hendrotomo. Tan Malaka berbeda pendapat dengan para petinggi militer di Jawa Timur. Akibatnya, Tan Malaka kemudian menghadapi regu tembak kawan seperjuangan sendiri. (tribunjateng/cetak/tempo.co/surya)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved