Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

100 KK Dukuh Proto Wetan Kendal Sering Terendam Air Karena Talud ini

Sedikitnya 100 Kepala Keluarga di Dusun Proto Wetan, Desa Protomulyo Kaliwungu Selatan terkena luapan Sungai Aji tiap hujan turun.

Penulis: dini | Editor: Catur waskito Edy
Dini Suciatiningrum
Sungai Aji yang menjadi batas Dukuh Proto Mulyo Wetan dan Desa Krajan Kulon, Selasa (14/03/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dini Suciatiningrum

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL -- Sedikitnya 100 Kepala Keluarga di Dusun Proto Wetan, Desa Protomulyo Kaliwungu Selatan terkena luapan Sungai Aji tiap hujan turun.

Warga Proto Wetan, Ariyadi, mengungkapkan, ketinggian luapan sungai tersebut bertambah parah sejak sejumlah warga Desa Krajan Kulon membuat talud permanen l.

"Sebelumnya aliran luapan air terbagi di dua desa namun sejak di talud di sisi barat setahun lalu, tiap hujan turun luapan air sungai mengalir ke deras sampai masuk ke rumah-rumah warga " ujar Ariyadi, Selasa (14/03/2017).

Tidak hanya membanjiri rumah namun juga fasilitas umum seperti mushola yang terletak persis di pinggir Sungai. Bahkan menurut Ariyadi, banjir bandang dari sungai setinggi satu meter kerap menerjang daerah tersebut

Sebenarnya, lanjut Ariyadi, warga yang terkena dampak luapan sungai tersebut tidak mempermasalahkan pembuatan talud oleh sejumlah warga di desa sebelah. Namun, sayangnya pembuatan talud tersebut tidak disosialisasikan dahulu.

"Warga inginnya sebelum dibuat talud, diukur dulu, dinormalisasi, serta disosialisasikan dulu kan sungai itu jadi batas dua desa, sedangkan di Dukuh Proto Wetan, taludnya masih tradisional yakni berupa tumpukan karung," jelasnya

Ariyadi mengaku sudah mengajukan surat terkait keluhan warga ke Kecamatan bahkan Dinas-dinas terkait sampai tiga kali namun tidak ada respon sampai saat ini.

Pegawai Negeri Sipil di Balai Desa Protomulyo tersebut kuatir situasi tersebut membuat hubungan dua desa menjadi panas.

Camat Kaliwungu Dwi Cahyono Suryo, mengungkapkan, sebenarnya pihaknya sudah menggelar mediasi dari forum masing-masing membenarkan sejarah.

"Sebenarnya waktu pembangunan talud tidak ada masalah namun setelah selesai baru terlihat dampaknya," jelas Dwi.

Sebenarnya, jika dua desa tetsebut sama-sama membuat talud tidak jadi masalah. Dia berharap jangan sampai hal tersebut membuat hubungan dua desa tidak harmonis.

"Kami sudah beberapa kali mengadakan mediasi tetapi belum menemukan solusi sebab dari pihak Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air PSDA tidak datang saat pertemuan," ungkapnya

Terpisah Pembantu Operasional Pembinaan Irigasi dan Bendung pada Satuan Pengelola Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Wilayah Bodri, Kisro, akan mensurvai lokasi untuk mencari solusi. Selain itu, pihaknya akan mencari kepastian kewenangan penangaan sungai tersebut apakah wilayah provinsi atau kabupaten

"Kami akan upayakan penanganan setelah mengecek lokasi, jika masuk wilayah provinsi tidak ada salah nanti akan berkolaborasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Kabupaten Kendal," tegasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved