Khawatir Longsor, Warga Kaliajir Pilih Mengungsi Saat Hujan Turun
Lebih dari 40 rumah di dusun Kalikuning mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah yang terjadi di wilayah itu.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: Catur waskito Edy
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA -- Kamini memilih mengosongkan rumahnya setiap hujan turun di wilayahnya.
Ia rela bolak-balik ke rumah anaknya, Saryono di RT 1 RW 4 dusun Kalikuning, desa Kaliajir, Purwanegara untuk berlindung diri.
Bangunan rumah permanennya sudah miring dan nyaris rubuh.
Rumah bagian belakang nenek itu sudah menggantung karena pondasinya jebol tergerus longsor.
Lantai keramiknya banyak yang pecah akibat tanah landasan retak.
Pintu rumahnya sampai tak bisa ditutup lantaran permukaan lantai tak beraturan.
"Saya takut kalau rumah saya roboh. Soalnya kondisinya sudah parah,"katanya, Kamis (23/3).
Posisi rumah Kamini hanya 20 meter dari pusat longsor di lahan pertanian warga. Gerusan longsor semakin meluas mendekati pemukiman.
Sejumlah rumah yang terletak di atas pusat longsor itu terancam karena tanahnya ikut bergerak.
Meski punya tempat untuk mengungsi, Kamini belum sepenuhnya aman dari ancaman longsor. Pasalnya, Rumah Saryono juga ikut terancam, meski tak separah rumah Kamini.
Dinding rumah Saryono sudah retak dengan lebar antara 5 sampai 10 sentimeter.
Lantai plester rumah juga ambles dengan retakan memanjang.
Saryono memutuskan tetap bertahan di rumah lantaran tak punya tempat untuk mengungsi.
Padahal, tanah di belakang rumahnya sudah rekah dan renggang selebar sekitar 3 meter dengan kedalaman sekira 3 meter.
"Ibu saya mengungsi ke tempat saya sedangkan rumah saya sendiri terancam. Kami mau mengungsi kemana karena punya rumah cuma ini. Kalau pemerintah mau relokasi kami siap,"ujarnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rumah-retak_20170323_161643.jpg)