SUCCESS STORY
Dulu Dikejar-kejar Anjing dan Diusir, Kini Sukamto Sukses Antar Motor Honda Kuasai Pasar Jateng
Dulu Dikejar-kejar Anjing dan Diusir Tuan Rumah, Kini Sukamto Sukses Antar Motor Honda Kuasai Pasar Jateng
Penulis: raka f pujangga | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Kesuksesan motor Honda dalam menguasai pasar di Jawa Tengah, tak terlepas dari peran Sukamto Margono, Marketing Region Head Astra Motor Jateng. Bekerja mulai dari mengenalkan Honda 'door to door' pada tahun 1987, sampai membangkitkannya dari keterpurukan saat bersaing dengan kompetitor pada 2009.
Bahkan saat awal karirnya, Pak Kamto, sapaannya, pernah menjual motor seorang diri dengan jumlah unit yang mengalahkan angka penjualan diler. Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga, disambut hangat saat berkesempatan untuk berjumpa dan membicarakan kisah hidup di kantornya, berikut petikan wawancara:
Bagaimana awalnya bergabung di Astra Motor Jateng?
Saya masuk ke sini tahun 1987, pertama kali menjadi salesman, dan tidak menyangka awalnya merintis berjualan motor Honda. Saya kira berjualannya di kantor, tapi ternyata door to door, dari pintu ke pintu saya datangi rumah orang.
Karena sudah terlanjur basah, ya sudah saya jalani. Cuma empat bulan saya menyesuaikan diri dan merasa nggak nyaman, tapi setelah itu lancar.
Meskipun waktu saya datang ke rumah orang, yang keluar anjingnya. Lalu juga pernah diusir, "nggak..nggak..nggak mas", saya pura-pura saja beli permen. Terus mengajak mengobrol dengan orang yang punya warung itu, dari situ saya menawari motor dan akhirnya mereka mau.
Apa perbedaannya berjualan motor Honda dulu dan sekarang?
Kalau dulu nggak ada sistem kredit seperti sekarang ini, yang membuat orang lebih mudah mau membeli motor. Dulu orang mau beli motor harus tunai, dan jualannya seperti salesman peralatan elektronik yang menawari dari rumah ke rumah, yang masih kita lihat sekarang ini.
Sekarang sebenarnya lebih mudah. Apalagi pada era digital ini, orang bisa melihat kelebihan produk sebuah motor dari video, Youtube, misalnya .
Apa yang dilakukan untuk memasarkan motor di Jateng?
Saya kalau jualan 'ndablek'. Dulu, motor Honda belum banyak yang kenal seperti sekarang ini, jadi konsumen diberitahu pelan-pelan.
Saya ajak ngobrol, pernah nggak mereka berpikiran biaya operasional motor yang boros. Sedangkan, saat itu saya menawarkan motor yang irit, dan perawatannya juga nggak sulit.
Dari situ, satu per satu orang yang saya datangi jadi konsumen saya. Tiap sore saya berada di kantor, saat orang lain pulang bekerja, sebaliknya saya mencatat konsumen yang sudah beli motor.
Kelihatan, kantong-kantong market ada di mana. Pada saat itu saya sudah tahu, mana daerah Semarang yang potensial.
Bagaimana hasilnya dari kerja keras yang sudah dilakukan?
Saat itu, saya jadi satu-satunya salesman yang paling berani untuk memasarkan produk Honda. Saya sampai iklankan di radio, kepala cabang saya waktu itu saja sampai heran dengan apa yang saya lakukan.
Akhirnya, setiap tahun saya dapat predikat best salesman. Bahkan angka penjualan diler motor itu kalah jualannya dengan saya.
Kalau saat itu diler bisa jualan 25 motor sebulan, saya jualan bisa sampai 100 motor sebulan. Makanya tahun 1990, saya sudah diangkat jadi supervisor pertama yang tidak memiliki gelar (sarjana).
Kendala apa yang dihadapi untuk memasarkan motor?
Kendala itu adalah usia tua. Saya berasal dari bawah dan tidak canggih dalam bahasa Inggris. Menguasai teknologi pun, biarpun kita mengikuti, tapi tidak seahli anak sekarang. Anak sekarang bahasa Inggrisnya sudah canggih.
Untuk mengantisipasinya, kita memberdayakan tim sesuai kemampuan masing-masing. Itulah kerja tim. Kemudian, menciptakan lingkungan enak dalam pekerjaan, pasti kerjanya akan nyaman.
Nilai-nilai apa yang ditanamkan untuk tim Honda khususnya di pemasaran?
Menjiwai bisnis Astra seutuhnya, dan melayani konsumen excellent. Memang melakukan nilai-nilai yang ditanamkan itu terkadang lebih sulit daripada membaca. Makanya, saya juga membuat buku panduan dalam pemasaran yang tujuannya untuk standarisasi.
Biarpun orangnya sudah berganti, standar kerjanya tetap sama, karena pakai panduan Help of Book Operation (HBO). Jadi tidak asal saja merekrut salesman.
Selain itu, saya juga membuat tagline 'Honda Motore Wong Jawa Tengah' yang memiliki simbol gunungan yang memiliki makna bisa mengayomi kehidupan. Kemudian, di dalam logonya ada gambar motor matik yang memiliki arti setia mendampingi mobilitas masyarakat Jateng.
Lalu ada juga gambar motif batik parang yang memiliki arti Honda yang tidak pernah menyerah atau tidak pernah berhenti berimprovisasi mengikuti perkembangan zaman.
Bagaimana peran Honda mengambil bagian untuk masyarakat dan seberapa pengaruhnya terhadap penjualan?
CSR (corporate social responsibility) yang kami berikan kepada masyarakat murni kami berikan tanpa pamrih untuk penjualan. Kami ikhlas. Sejak dulu sampai sekarang kami selalu berperan di tengah masyarakat dan macam-macam kegiatannya.
Misalnya, membantu kambing atau sapi saat Hari Raya Kurban. Lalu, kami juga tidak hanya masuk ke perusahaan.
Tapi juga sampai ke bagian terkecilnya yaitu kampung. Makanya saya buat percontohan Kampung Safety Riding. Kami harus memikirkan hal itu, karena itulah salah satu alasan kenapa saya betah bekerja di sini. Selain bekerja, saya juga bisa bermanfaat untuk orang lain.
Lalu, apa cita-citanya yang belum tercapai?
Karena sekarang semua sudah serba digital, saya juga ingin bisa mendorong semua sistem yang ada pada kami dikembangkan secara digital. (tribunjateng/raf)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sukamto-margono-marketing-region-head-astra-motor-jateng_20170327_114244.jpg)