Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kulit Sampah Kok Dijadikan Minuman? Ini Kisah Marsiyem Hadapi Cemoohan. Kini Usahanya Menggurita

Di awal usahanya memproduksi kulit manggis menjadi produk minuman, Marsiyem sudah mengalami banyak kendala

Tayang:
Penulis: m zaenal arifin | Editor: muslimah
Tribun Jateng/M Zaenal Arifin
Pengusaha produksi minuman Maristhone dari kulit manggis 

TRIBUNJATENG.COM - Di awal usahanya memproduksi kulit manggis menjadi produk minuman, Marsiyem sudah mengalami banyak kendala. Mulai dari nama produk yang diklaim orang lain hingga cemoohan.

Bagaimana upaya Marsiyem menjalankan usahanya produk yang diberi nama Maristhone? Berikut wawancara Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin dengan produsen Maristhone, Marsiyem, beberapa waktu lalu.

Bagaimana awal punya ide memproduksi kulit manggis menjadi produk minuman?

Awalnya ada teman pulang dari Jepang membawa buku tentang manggis yang di dalamnya menyebutkan bahwa manggis banyak khasiatnya. Kemudian saya bersama beberapa warga mencoba membuat sesuatu dari bahan manggis itu, khususnya kulitnya. Kebetulan desa saya Somongari adalah desa sentranya buah manggis.

Apakah awal produksi sudah membuat nama produk yaitu Maristhone?

Awalya merek usaha ini adalah Gisthone dan sudah beredar di pasaran selama 1 tahun. Tapi saya belum daftarkan merek. Lalu merek Gisthone diambil orang sehingga terpaksa saya harus ganti menjadi Maristhone. Brand itu kini sudah saya patenkan.

Bagaimana awal memproduksi olahan kulit manggis ini?

Saya awalnya membuat minuman dulu. Kemudian saya tawarkan ke teman-teman bahkan sampai ke pegawai kecamatan. Saat itu, suami masih menjabat sebagat kepala desa, jadi banyak yang kenal. Saat menawarkan minuman dari kulit manggis itu, saya sempat dicemooh banyak orang. Katanya sampah kulit kok buat minuman.

Bagaimana menanggapi cemoohan banyak orang di awal membangun usaha ini?

Saya hanya bisa tersenyum. kalau saya bisa jualan dan laku, saya akan senang. Syukur saya bisa mengobati orang-orang yang sakit dengan minuman dari kulit manggis. Itu merupakan kebanggaan tersendiri buat saya, artinya saya bisa memberi pencerahan kepada sesama umat manusia.

Lalu, ada saudara yang kebetulan kerja di Kementerian Pertanian (Kementan) yang pulang ke Purworejo. Saya tawari, dan dia merespons bagus. Saya malah disarankan untuk segera mengurus ijin produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).

Dari situ saya semangat dan langsung mengurus ke Dinas Kesehatan Purworejo. Tanggapan dari Dinas juga bagus. Proses izinnya juga cepat.

Kapan pertama kali melakukan produksi Maristhone?

Awal membuat minuman itu pada Oktober 2013. Saya awalnya mencoba hanya 5 kuintal buah manggis segar. Saya menggunakan alat manual, seperti sendok, pisau, panci untuk wadah, dan lainnya. Kulit manggis segar diambil daging kulitnya saja. Kemudian dibuat serbuk kulit manggis. Untuk jadi minuman, kulit manggis saya rebus sampai lama sehingga sampai berwarna coklat.

Apa kendala dalam dialami dalam menjalankan usaha ini?

Kendalanya ya pemasaran. Sebenarnya kalau sewaktu panen, karena mengolah dalam jumlah banyak sehingga hasilnya juga banyak. Pertama memang hanya 5 kuintal, tapi tahun berikutnya sudah sampai 10 ton buah manggis, bahkan lebih.

Dalam produksi minuman, dibantu siapa?

Ada 35 tenaga yang membantu saya dalam proses pengolahan sewaktu panen dan 8 orang tenaga petik buah manggis. Di samping itu, saya juga memberdayakan warga dan kelompok yang kurang mampu atau miskin.

Bagaimana pemasaran minuman Maristhone saat ini?

Dari waktu 2015, pasaran Mariathone begitu cepat dan banyak dari Semarang, Jakarta, Yogyakarta, dan Magelang. Saya titipkan di toko-toko, juga saya ikut pameran-pameran. Saya sering diajak ikut pameran oleh Bappeda Purworejo, Dinas Koperindag, Dinas pertanian, Dinas pariwisata, dan KBPM. Bahkan saya pernah diundang mengikuti Pekan Nasional KTNA di Malang, Jatim.

Berapa modal awal dan omzet dari Maristhone sekarang?

Modal awal cuma Rp 10 juta. Karena manggisnya saya ambil dari lahan saya sendiri. Untuk omzet dari waktu 2013 dan 2014 mencapai Rp 10 juta sampai Rp 15 juta perbulan sampai sekarang. Itu hitungan bersih. Belum bisa berkembang karena memang terkendala soal pemasarannya. Ini karena saya tidak punya jaringan toko di luar kota.

Apakah sampai sekarang masih manual produksinya?

Masih manual, karena justru lebih cepat. Pakai mesin malah banyak gangguan, soalnya listrik di Somongari yang merupakan daerah pegunungan sering mati. Sebenarnya saya masih butuh peralatan ataupun modal, saya membutuhkan rak dagangan untuk dibawa setiap mengikuti pameran-pameran.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved