Forum Mahasiswa

Ikhtiar Kartini dan Kiai Sholeh Darat

Makna surat Al-Fatihah yang selama ini sama sekali tidak ia pahami, telah menjadi benderang atas penjelasan dengan bahasa Jawa Kiai Sholeh Darat

Ikhtiar Kartini dan Kiai Sholeh Darat
Wikipedia
RA Kartini 

TRIBUNJATENG.COM -- "Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya."

Demikian sepenggal kalimat yang ditulis oleh RA Kartini kepada sahabatnya, Stella Zihandelaar tertanggal 6 November 1899. Kegelisahan Kartini ini bisa dipahami mengingat selama ini Kartini hanya tahu membaca Al- Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu. Bahkan Kartini pernah menganggap bahwa pelajaran agama hanya sebatas ritual belaka tanpa ada makna yang bisa dipahami. Kartini gelisah, sempat terpikir olehnya bahwa tidak menjadi orang soleh pun tak apa asalkan jadi orang yang baik hati.

Hingga pada suatu hari, tertegunlah ia mendengar ceramah dari seorang 'Alim saat sedang menjelaskan tentang tafsir Al-Fatihah. Peristiwa itu terjadi ketika acara pengajian di rumah pamannya yang tak lain adalah Bupati Demak. Kalimat demi kalimat ia cermati tanpa ada satupun yang terlewat. Saat itu juga, takdir telah mempertemukannya dengan seorang Ulama yang sangat 'alim bernama Muhammad Shalih bin Umar Darat Semarang (lahir 1820 M) yang di kemudian hari kita mengenalnya dengan nama Kiai Sholeh Darat.

Dalam pertemuan itu Kartini menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada Kiai Sholeh Darat. Makna surat Al-Fatihah yang selama ini sama sekali tidak ia pahami, telah menjadi benderang atas penjelasan dengan bahasa Jawa Kiai Sholeh Darat yang mudah dipahami. Kartini pun meminta agar Alquran diterjemahkan, karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.

Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Alquran. Namun Kiai Sholeh Darat tidak kekurangan akal. Beliau menerjemahkan Alquran dengan menggunakan tulisan "Pegon", huruf yang dipakai adalah bahasa Arab namun bahasa yang dituliskan adalah bahasa Jawa. Kemudian kitab ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, agar tidak dicurigai penjajah. Inilah tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Namun sayang, sebelum beliau menyelesaikan kitab tafsirnya, beliau sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Itulah sejarah awal penulisan terjemah Alquran di Nusantara. Dulu baik Kartini maupun Kiai Sholeh Darat memiliki harapan yang murni atas tujuan penulisan terjemah tersebut, tidak lain agar umat Islam mudah dalam memahami teks-teks agamanya.

Sayangnya, apa yang diikhtiari oleh Kartini dan Kiai Sholeh Darat ini menjadi begitu problematis di masa sekarang. Yang terbaru dan masih sangat hangat tentu saja adalah tafsir Al Maidah ayat 51 yang begitu debatable. Terjemah keluaran Departemen Agama yang mengartikan kata "wali" bermakna seorang pemimpin, menurut beberapa pendapat dikatakan tidak sesuai dengan konteksnya, karena berdasarkan azbabun nuzulnya kata wali lebih dekat kepada makna "teman dekat". Sehingga kita tahu bersama, muncullah peristiwa gelombang massa yang episodenya berjilid-jilid itu.

Hal semacam ini setidaknya pernah disinggung oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri yang akrab kita sapa Gus Mus dalam salah satu wawancara, bahwa Alquran itu tidak bisa diterjemahkan, apalagi diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang kosa katanya masih miskin. Bangunan kata antara Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia tidaklah sama. Alquran yang diturunkan Allah SWT di Arab, mengandung banyak nuansa sastrawi. Maka, jika Alquran diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, nuansa itu akan hilang.

Apa yang disampaikan oleh Gus Mus saya yakin bukanlah sebuah usaha pelarangan terhadap proses penerjemahan Alquran. Karena bagaimanapun, ini adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk menyampaikan pesan-pesan Alquran kepada masyarakat Indonesia yang ‘ajam, bukan Arab.

Bagi saya, hal ini lebih cenderung kepada keprihatinan seorang Ulama atas fenomena yang terjadi dewasa ini, yaitu euforia untuk menyebarkan ayat-ayat Alquran tanpa dibarengi dengan pengetahuan dan pemahaman yang mumpuni atas tafsir ayat tersebut. Alquran yang memiliki arti yang sangat luas di setiap sudut katanya, dipahami menggunakan terjemahan sebagai satu-satunya makna yang harus digunakan dan menutup kemungkinan munculnya makna lain. Sehingga perselisihan yang berujung pada pertengkaran antara sesama umat Islam sebagai akibat dari perbedaan memaknai dan memahami ayat-ayat Alquran semakin marak terjadi hari ini.

Ditambah dengan dalil "Sampaikan dariku walau hanya satu ayat" meletuplah ghirah pada diri kita untuk berbicara, menyampaikan, dan menyerukan Islam ke mana-mana. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu. Apa-apa yang dipahami kaum alim dam kaum awam akan menghasilkan output dan perspektif yang telak berpunggungan. Kaum alim amat potensial untuk menghadirkan pemahaman yang luwes, mendalam, lentur, dan membumi. Sedangkan kaum awam dengan segala keterbatasan pengetahuan dan keilmuan, akan sangat potensial untuk menghadirkan wajah Islam yang kaku, saklek, sempit, keras dan ahistoris.

Sayangnya, kita makin abai saja pada aspek-aspek prinsipil ini. Kita lebih tergesa untuk menjelma menjadi seorang muslim yang kaffah, meski apa yang kita lakukan justru menjadikan kehidupan ini lebih ruwet dan kebak konflik. Efeknya, kita telah melihatnya sendiri hari ini.

Bahrun M Syafi'i 

Mahasiswa Kimia, Universitas Negeri Semarang (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved