Hari Pendidikan Nasional
Jika Hujan Deras, Terpaksa Sekolah Ini Liburkan Siswanya
Siswa di Dusun Cipluk Timur, Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal libur jika kondisi hujan deras
TRIBUNJATENG.COM, KENDAL– Kualitas pendidikan di Indonesia masih diwarnai ketimpangan, khususnya daerah pedesaan dibandingkan wilayah perkotaan. Seperti yang dialami para siswa di Dusun Cipluk Timur, Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal.
Ketika cahaya langit mulai memerah, enam anak berseragam merah putih tampak berhenti di pinggir Sungai Blukar. Mereka kompak melepas sepatu hitam dan membungkus dalam kantung plastik hitam. Setelah memasukkan sepatu dalam tas punggung, kaki-kaki kecil mulai masuk dalam air Sungai Blukar.
Sambil sesekali mengangkat celana pendek, mereka berjalan pelan menyeberangi derasnya arus Sungai Blukar pagi itu.
Dinginnya air sungai seolah sirna dengan semangat anak-anak untuk meraih ilmu di Sekolah Dasar Negeri 3 Sidokumpul Patean yang merupakan satu-satunya sekolah terdekat. Sesekali canda dan tawa mewarnai perjalanan mereka saat menyusuri sungai.
Satu di antaranya Muhammad Iqbal, siswa kelas V SD ini sudah biasa melewati sungai bersama teman-teman saat pergi dan pulang sekolah. Kendati demikian, Iqbal mengaku takut saat hujan deras turun dan membuat arus sungai tersebut lebih deras. "Kalau hujan deras biasanya diantar bapak. Kalau bapak gak bisa mengantar, terpaksa gak berangkat sekolah," ujarnya pada wartawan, Selasa (2/5).
Sejumlah orangtua pun rela menggendong putra-putrinya pergi sekolah di tengah derasnya arus sungai. Seperti yang dilakukan Sumiah (31) yang menggendong putrinya yang masih duduk di kelas 2 sambil berjalan di atas batu sungai yang licin.
Warga Dusun Cipluk Timur ini mengungkapkan bahwa sudah lima tahun terakhir anak-anak di dusun tersebut berjibaku menyeberang sungai untuk pergi dan pulang sekolah. Dia mengatakan jembatan satu-satunya yang menghubungkan Dusun Cipluk Timur dengan Dusun Cipluk Barat putus dan hanyut sejak lima tahun lalu, jadi tidak ada jalan lain selain menyeberang sungai. "Kegiatan sehari-hari ya begini mbak, antar anak sekolah pagi, siangnya jemput lagi soalnya saya tidak tega biarkan anak saya nyeberang sungai gini, " paparnya.
Sumiah berharap pemerintah bisa membangun jembatan lagi sebab tidak hanya pendidikan, aktivitas lain juga terganggu. Selama ini warga harus mengangkat kendaraan melewati sungai jika beraktivitas di luar Dusun Cipluk Timur.
Camat Patean Yanuar Fatoni mengakui sudah lima tahun terakhir warga Dusun Cipluk Timur kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan, sebab semua fasilitas baik sekolah dan poliklinik desa berada di Dusun Cipluk Barat.
Fatoni mengungkapkan selama ini warga Dusun Cipluk Timur harus menyeberangi sungai untuk sekolah atau berobat. "Jika musim hujan dan debit air tinggi anak-anak terpaksa tidak sekolah, " ungkapnya.
Pihaknya sudah mengajukan proposal perbaikan jembatan ke provinsi dalam acara Musrenbang sebab biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki jembatan yang hanyut tersebut tidak sedikit. "Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 800 juta untuk membangun jembatan sepanjang 300 meter yang menghubungkan Dusun Cipluk Tikur dan Cipluk Barat, " ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal Agus Rivai tidak bisa berbuat banyak sebab hanyutnya jembatan di Dusun Cipluk beberapa tahun lalu disebabkan oleh musibah alam. Dia berharap agar dinas terkait segera membangun jembatan sebagai akses jalan yang aman bagi anak-anak di dusun tersebut.
Dia juga mengimbau agar anak-anak lebih baik belajar mandiri saat hujan deras. "Kalau lewat Sungai Blukar saat hujan deras itu bahaya jadi lebih baik anak-anak belajar mandiri didampingi orangtua di rumah. Semoga setelah ini dinas terkait segera membangun jembatan, " ujarnya. (tribunjateng/cetak/dni)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sejumlah-siswa-sd-seberangi-sungai-berangkat-sekolah_20170502_134141.jpg)