Misteri Yang Muncul Seiring Penemuan Batu Purba di Banjarnegara
Lokasi penemuan bebatuan purba itu berada di jalur alternatif dari Dieng menuju Kabupaten Batang atau Pekalongan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: galih pujo asmoro
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Temuan bebatuan purba di lahan wara Dusun Bitingan, Kepakisan menyisakan misteri.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Kepakisan Sarwo Edi meyakini, bebatuan tersebut adalah peninggalan peradaban kuno, bisa jadi candi atau petilasan.
Ada beberapa bukti yang menguatkan dugaannya.
Lokasi penemuan bebatuan purba itu berada di jalur alternatif dari Dieng menuju Kabupaten Batang atau Pekalongan.
Jalur itu disebutnya sebagai jalur utama masuknya peradaban Hindu-Budha ke wilayah Dieng dari Pantai Utara (Pantura) via Pekalongan-Batang.
"Peradaban masuk ke Dieng melalui dua jalur. Dari utara, peradaban masuk melalui jalur Batang- Bitingan Batur. Dari selatan masuk melalui melalui Sembungan, Kejajar Wonosobo," kata dia.
Legenda yang berkembang di masyarakat Bitingan turut menguatkan keberadaan peradaban kuno di wilayah Bitingan.
Berdasarkan cerita turun temurun, wilayah Bitingan dipercaya sebagai bengkel kerja pembuatan Candi Dieng.
Di tempat tersebut, para leluhur membuat bahan penyusun candi dan memahatnya sesuai kebutuhan untuk membangun Candi Dieng.
Bahan yang telah terpahat rapi konon diangkut ke Dieng yang hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari Bitingan.
Sarwo telah membandingkan bebatuan yang ditemukan warga dengan batu penyusun candi Dieng.
Hasilnya, ada kemiripan di antara keduanya, baik dari ukuran, bentuk, maupun gambar.
Perbedaannya, candi Dieng terbuat dari batu andesit berwarna hitam mengkilat.
Sementara bebatuan di dusun Bitingan banyak bewarna kemerahan, serta belum diketahui jenis batuannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/batu-purba_20170504_151928.jpg)