Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Menyimak Kisah Hidup Mukhorobin, Pande Besi Terakhir dari Kampung Pandean Kaliwungu Kendal

Ia bertahan menjadi pande dikarenakan ingin mempertahankan warisan pekerjaan nenek moyang.

Tayang:
Editor: a prianggoro
Kompas.com/Slamet Priyatin
Mukhorobin, generasi terakhir pande besi di kampung Pandean Kaliwungu Kendal Jawa Tengah. 

TRIBUNJATENG.COM- Mukhorobin (58) adalah generasi terakhir pandai besi yang ada di Kampung Pandean Kaliwungu Kendal Jawa Tengah.

Ia bertahan menjadi pande dikarenakan ingin mempertahankan warisan pekerjaan nenek moyang.

"Ini keahlian saya. Membuat atau memperbaiki arit, parang, atau pacul," kata Mukhorobin, Minggu (7/5/2017).

Sikap ini diambil meskipun uang yang didapat dari bekerja sebagai pande besi setiap harinya tidak cukup untuk makan keluarga, yaitu hanya Rp 15.000 hingga paling banyak Rp 50.000.

Sebelum tahun 2000 penghasilannya sebagai pandai besi per harinya bisa untuk makan seminggu.

Warga Kranggan, Desa Krajan Kulon Kaliwungu ini mengaku kalau pandai besi di Pandean tinggal dirinya. Padahal dulu, sebelum tahun 2000, hampir semua penduduk Pandean, bermata pencaharian sebagai pande.

"Ini mungkin dikarenakan pande besi di kampung ini sudah meninggal dunia, dan anaknya tidak ada yang mau meneruskan usaha orang tuanya," kata warga asli Pandean ini.

Menurut cerita bapak beranak dua tersebut, karena dulu banyak masyarakatnya yang jadi pande, maka kampung ini dinamakan Pandean. Pandean dari kata kepandean atau pandai.

Di depan rumah warga Kampung Pandean, hampir semuanya ada gubuk kecil berukuran 4x5 meter, untuk membuat peralatan kerja pertanian. Namun, seiring perkembangan zaman, peralatan pertanian traditional itu mulai ditinggalkan.

Petani lebih suka memakai mesin buatan pabrik, seperti traktor dan lainnya.

"Peralatan pertanian dari mesin, membuat petani sudah langka yang menggunakan pacul, arit, atau ani-ani. Disamping itu, sekarang ini sudah banyak sawah yang berubah menjadi perumahan,” ujar Mukhorobin.

Harga pacul buatan Mukhorobin seharga Rp 400 ribu. Kalau arit atau parang, sekitar Rp 100 ribu. Harga ini, lebih mahal kalau dibandingkan dengan harga pacul atau arit dan parang yang dijual di pasar atau pedagang keliling .

"Karena bahannya beda. Kalau bahan pacul, arit, atau parang buatan saya dari besi baja. Sementara yang dijual di pasar atau pedagang keliling, dari besi biasa. Sehingga mudah penyok atau rusak," ujar Mukhorobin.

Jadi kampung handphone

Menurut Mukhorobin, pandai besi di Kampung Pandean, Kaliwungu Kendal, sudah ada sejak masa penjajahan. Usai merdeka, pandai besi di Pandean semakin banyak.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved