Dengan Sedih, Para Petani Memanen Kedelai Sebelum Lahannya Dilindas Backhoe. Nur : Ini Penindasan
Hamparan lahan pertanian yang hijau berisi beragam hasil bumi siap panen seketika hancur saat enam alat berat milik PT Waskita Karya melindasnya
TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Hamparan lahan pertanian yang tampak hijau berisi beragam hasil bumi siap panen seketika hancur saat enam alat berat milik PT Waskita Karya melindas tanah subur di Desa Wungurejo, Selasa (9/5).
Suara tangisan dan kemarahan warga mengiringi proses pengosongan lahan terdampak proyek tol Semarang-Batang tersebut. Meski sebelumnya sempat protes dan menghalang-halangi petugas, sejumlah warga menaiki alat berat dan meminta petugas mematikan mesin alat berat.
"Mesine pateni rak yen rak kowe sing tak pateni (mesinnya matiin gak, kalau tidak kamu yang ku bunuh)," ujar salah satu warga dengan penuh emosi.
Suasana semakin memanas tatkala tiga alat berat yang tersembunyi keluar dari direrimbunan tanaman jagung yang berada di tengah lahan.
Sontak, warga langsung terjun dan berlari mengejar backhoe yang mulai melindas tanaman kedelai yang masih hijau.
Tidak hanya itu, tiga alat berat yang sempat ditahan warga di pinggir jalan mulai memasuki lahan warga. "Kae sopiri tarik, pateni (itu sopirinya tarik saja, bunuh), " ujar salah seorang pemuda warga setempat.
Bahkan, tidak sedikit ibu-ibu yang menangis histeris. Satu di antara Nur Hayati (35), yang ikut berlari mengejar alat berat dan menghentikan laju backhoe sambil menangis histeris.
Namun, upaya warga itu tak membuahkan hasil. Alat-alat berat, dengan kawalan ratusan aparat kepolisian merengsek meratakan tanaman di lahan mereka.
"Aku sadar lakukan ini, ini namanya penindasan, " teriak Nur Hayati sambil menangis, melihat tanaman kedelai yang satu minggu lagi akan panen ini musnah.
Beruntung, sang suami datang dan menenangkan Nur Hayati. "Biar, ikhlaskan saja! Biar Allah yang membalas, " ujarnya sambil menarik sang istri.
Para pemilik lahan tersebut, akhirnya memanen kedelainya sebelum diratakan dengan alat berat.
Koordinator warga Desa Wungurejo yang terdampak proyek jalan tol, Samsudin, menegaskan warga tetap menolak pembayaran ganti rugi meski proses eksekusi lahan telah dilakukan.
Samsudin mengatakan, sebenarnya mendukung proyek pembangunan jalan tol Batang-Semarang, namun warga minta harga ganti lahan yang wajar.
"Hanya dua desa ini ( Desa Wungurejo dan Tejorejo) yang nilai ganti rendah dibanding desa lain yang tanahnya dihargai Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Kami merasa dizalimi dengan harga ganti kerugian Rp 220 ribu per meter persegi, tidak manusiawi, " ungkapnya
Sementara itu, Panitera Pengadilan Negeri Kendal, Soedi Wibowo, menegaskan proses eksekusi sudah dilakukan sesuai prosedur. Sebab, pihaknya sudah melakukan pemanggilan konsinyasi dua kali pada warga pemilik lahan yang terdampak proyek jalan tol dan melayangkan surat pemberitahuan penetapan dan memberi waktu untuk melepas tanahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ratusan-proyek-jalan-tol-di-desa-wungurejo-kendal-tolak-eksekusi_20170509_093731.jpg)