Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Selalu Teringat Kenangan Indah, Jumiyem Lebih Suka Tidur di Tenda Jualannya

Di tempat jualannya itu, Jumiyem juga menyediakan satu tempat khusus yang ia dijadikan sebagai tempat tidurnya sekaligus tempat untuk salat

Tayang:
Penulis: Nur Rochmah | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Nur Rochmah
Jumiyem sedang membuat es teh yang dipesan pembeli di kiosnya, Jalan Sokarno Hatta, Semarang, Senin (3/7). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Nur Rochmah

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Warga asal Telogosari, Semarang, Jumiyen (52), sudah mulai berjualan di Jalan Soekarno Hatta, atau lebih tepatnya di depan gerbang pintu masuk Pasar Relokasi Johar.

Katanya, ia sudah membuka kiosnya itu hampir 10 tahunan lebih. Kondisi bagunan kios yang ia dirikan hanya terbuat dari kerangka bambu yang sewaktu-waktu bisa reyot, dan bagian penutup atap serta penutup sisi kanan kirinya ditutup menggunakan MMT bekas yang kini warnanya sudah mulai memudar.

"Ini tempat pertama kali saya jualan bersama suami, sebelum dia meninggal setahun yang lalu. Rasanya kalau di sini tuh jadi keinget kenangan indah sama dia," kata Jumiyen saat ditemui Tribun Jateng, Senin (3/7).

Meski lokasi tempat tinggalnya dengan tempatnya berjualan tidak begitu jauh, Jumiyem lebih memilih tidur di kiosnya setiap hari supaya tidak buru-buru kalau sudah waktunya buka lapak jualannya.

Di tempat jualannya itu, Jumiyem juga menyediakan satu tempat khusus yang ia dijadikan sebagai tempat tidurnya sekaligus tempat untuk salat.

Posisinya, bersebelahan dengan dapur dan meja tempat ia mendasarkan jualannya.

Ukuran ruangan itu, hanya muat untuk tidur satu orang saja. Sebagai pembatas ia menutupinya menggunakan karpet plastik yang bekas. Hal ini ia lakukan supaya tempat tidurnya tidak bisa dapat dilihat langsung, jika ada pembeli yang datang.

"Saya kerja di sini untuk memenuhi kebutuhan hidup saja. Sekalian cari kesibukan, kan kalau di rumah terus pasti bosen. Lah wong semua anak saya saat ini udah pada berkeluarga semua kok," ungkap ibu dua anak itu.

Ia juga mengaku, kondisi jalanan yang sering bising karena lalu lalang kendaraan, serta jalanan yang berdebu sempat mengganggunya juga. Tapi, lama kelamaan Jumiyem sudah mulai terbiasa dengan kondisi tersebut.

"Paling kalau hujan gede, di sini sering bocor. Dan ini lantainya kan masih tanah jadinya bikin becek dan udaranya makin dingin," katanya.

Di kiosnya itu, Jumiyem menjual makanan, minuman, serta gorengan. Makanan yang ia jual untuk satu porsi nasi soto dibandrol Rp 5 ribu, minuman es teh Rp 2 ribu, dan untuk satu gorengan yang ukurannya cukup besar dihargai Rp 1 ribu.

Warung makan tersebut buka setiap pukul 08.00 sampai 21.00.

Jika dagangan tak habis terjual, Jumiyem kadang menjadikannya buat pakan ke ayam piaraannya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved