Buah Bibir
Dea Andrey Puspita, Mahasiswi Cantik yang Jatuh Cinta dengan Jepang
Tinggal di Negeri Sakura merupakan dambaan Dea Andrey Puspita (24). Lulusan Sastra Jepang Undip mengaku sudah tiga kali kunjungi Jepang
Penulis: Nur Rochmah | Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUNJATENG.COM - Tinggal di Negeri Sakura merupakan dambaan Dea Andrey Puspita (24).
Lulusan Sastra Jepang Universitas Diponegoro (Undip) mengaku sudah tiga kali mengunjungi Jepang.
Dara kelahiran Semarang, 10 April 1993 itu mempunyai mimpi kepingin jadi seorang translator di Jepang.
"Dari dulu mimpiku adalah jadi penterjemah, dan namaku bakal ada di setiap awal film. Waktu SMP aku sempat punya mimpi jadi penterjemah Bahasa Inggris, terus lanjut hingga SMA. Tapi karena waktu SMA aku mulai suka Bahasa Jepang, dan kepikiran wah di film Jepang ada namaku keren juga nih," ungkapnya, Senin (10/7).
Yaya, sapaan akrab Dea Andrey Puspita, memiliki tekad kuat untuk bisa ke Jepang.
"Aku suka banget sama hal yang berhubungan dengan Jepang. Tapi saat itu orangtua tidak terlalu mendukung. Pas tahun 2012, akhirnya aku nekat aja tuh daftar Jurusan Sastra Jepang aja, yang aku minat. Kali aja lolos, eh trnyata lolos juga," ujar gadis yang bulan April lalu lulus dengan meraih nilai IPK 3,70.
Dari mimpinya itu, beberapa waktu lalu untuk pertama kalinya ia ikut program Jenesys dan lolos ikut terbang ke Jepang, untuk mempelajari kebudayaan di sana selama kurang lebih satu bulan.
Setelah program tersebut, ia mulai mentarjetkan tahun selanjutnya bisa pergi ke Jepang menggunakan uang tabungannya sendiri.
Keinginannya itu pun kesampaian, hingga di tahun ini, ia pun berhasil mendapatkan kesempatan intership atau magang kerja di sana.
Program internship tersebut merupakan program dari AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et CommercialesAiesec).
Proses awal yang harus ditempuh Yaya cukup panjang, yakni harus melewati tiga tahapan interview yang menggunakan dua bahasa asing, Bahasa Inggris dan Jepang sekaligus.
"Dan Alhamdulillah bisa lolos hingga aku pun punya kesempatan tinggal di sini selama beberapa bulan. Dan untuk rencana selanjutnya aku harus bisa hidup di Jepang, walau nantinya hanya jadi pengajar anak TK," tandasnya.
Ternyata, Yaya juga sempat merasa kesulitan akan rasa krisis percaya dirinya.
Tapi, ia punya solusi tersendiri, yakni mencoba mempercayai dirinya sendiri dan mimpi yang ingin ia gapai.
Ia juga selalu menanamkan positif thinking serta kepedulian dengan lingkungan sekitarnya, hingga ia sendiri mampu hidup di negara orang lain yang katanya susah, tapi baginya justru menyenangkan.
"Kadang mimpi-mimpiku bisa berubah, tapi tetep keinginan terbesarku jadi seorang penerjemah dan bisa hidup di Jepang. Mungkin sekarang belum tercapai, yang penting sih jangan menyerah, mencoba yang terbaik, matangkan rencana, dan membangun mindset yang bagus mengenai mimpi yang ingin aku capai," imbuhnya. ( tribunjateng/cetak/Nur Rochmah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dea-andrey-puspita_20170711_083705.jpg)