Alwi Shihab dan Franz Magnis Bicara Pancasila di UKSW Salatiga
Alwi Shihab dan Franz Magnis Bicara Pancasila di UKSW di Balairung UKSW di Salatiga, Sabtu (15/7/2017).
Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Alwi Abdurrahman Shihab, mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI dalam Kabinet Indonesia Bersatu hadir sebagai pembicara dalam kuliah umum agama di Balairung UKSW di Salatiga, Sabtu (15/7/2017).
Pria yang akrab disapa Alwi Shihab tersebut merupakan satu dari empat pembicara dalam kuliah umum bertajuk Mengukuhkan Pancasila, Merawat Kebhinekaan yang digelar oleh citivas akademika Fakultas Teologi UKSW Salatiga.
Dalam penyampaian materi di hadapan ratusan peserta yang notabene adalah mahasiswa tersebut, dia mengambil dari sudut pandang atau perspektif agama Islam. Yang secara tegas menyebutkan Pancasila adalah suatu kesepakatan umat beragama di Indonesia.
“Pancasila itu titik temu dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila tidak bertentangan dengan agama apapun. Sehingga dari perspektif itu, yang mengingkari suatu kesepakatan itu, adalah ciri dari perilaku yang tidak Islam,” ujar Alwi Shihab kemarin Sabtu (15/7/2017).
Dan dari kondisi saat ini yang cukup banyak muncul fenomena kelompok yang ingin menggantikan ideologi Pancasila dan isu lain yang mengancam kebhinekaan di Indonesia tersebut perlu disikapi secara serius. Jangan dianggap enteng.
“Dan adanya kelompok-kelompok tersebut, sedang menjadi suatu tantangan bagi siapapun, di Indonesia saat ini. Nah untuk menghadapi tantangannya, yang cukup efektif dan harus dioptimalkan yakni memperkuat sikap toleransi serta saling respect. Dua hal itu adalah kuncinya,” tegas pria kelahiran Rappang Sulawesi 19 Agustus 1946 itu.
Hal senada juga dipertegas Budayawan Indonesia Romo Franz Magnis Suseno atau akrab disapa Romo Magnis. Menurutnya, Pancasila adalah suatu tekad serta kesepakatan bangsa Indonesia yang memungkinkan bangsa ini hidup bersama kemajemukan, secara positif, dan dama bersama-sama dalam membangun Indonesia.
“Dalam kondisi seperti saat ini, perlu kembali suatu penegasan atas Pancasila dan juga kesejahteraan rakyat pun perlu diutamakan dalam pembangunan ekonomi. Selain itu juga yakni pemberantasan korupsi para politisi. Jangan justru sebaliknya. Itu semua bisa dilakukan bersama-sama apabila dikomunikasikan secara ramah dan terbuka antarumat beragama,” jelas tokoh Katholik itu.
Dan kunci terpenting, tambahnya, negara harus bersikap tegas dan siapapun yang hendak mengganti ideologi tersebut harus ditindak secara tegas. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut. Adapun yang sekiranya perlu disepakati dan diingatkan kembali kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya di Indonesia ada tiga hal.
“Pertama adalah tegas menolak kekerasan dalam segala bentuk yang mengatasnamakan agama, orang beragama dengan cara yang tidak membuat mereka saat berada di luar atau saat berinteraksi tidak mengalami ketakutan, dan tentunya yakni menjamin tidak ada orang maupun kelompok orang yang mengalami ketakutan itu,” ucapnya.
Sementara itu, Rektor UKSW John A Titaley yang juga didaulat menjadi pembicara dalam kuliah umum tersebut menuturkan, dalam ajaran Kristen, Tuhan itu menginginkan kesetaraan manusia. Karena itu, sikap menghargai semua manusia secara setara merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi.
“Bangsa ini akan aman apabila seorang penganut agama tidak melecehkan agama lainnya. Agama anugerah Tuhan dalam bentuknya yang berbeda-beda. Itu adalah realitas dan jalan berbeda-beda yang bebas untuk dipilih setiap manusia,” tambah Guru Besar pada Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Bali I Nengah Duija. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/alwi-shihab-dan-franz-magnis-bicara-pancasila-di-uksw_20170716_145139.jpg)