Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pengusaha Batik Semarangan Kebanjiran Order pada Masa Masuk Sekolah

Banyak orangtua siswa terlihat mencari batik semarangan di beberapa toko di Kampung Batik.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUN JATENG/M ZAINAL ARIFIN
Tri Utomo menunjukkan koleksi batik di Omah Batik Ngesti Pandowo, Kampung Batik, Semarang Timur 

Saking banyaknya pembeli, stok sampai habis.

"Pada hari biasa, saya mampu jual 30 potong baju batik per hari. Saat ini bisa jual sampai 100 potong per hari," jelas Tri Utomo.

Agar tetap bisa memenuhi permintaan pelanggan, ia meminta pengrajin fokus membuat kain atau baju batik semarangan dengan motif ikon kota Semarang.

"Motif yang diburu itu motif ikon Kota Semarang antara lain Lawang Sewu, Tugu Muda, asem blekok, warak ngendok, dan Gereja Blenduk," paparnya.

Dari segi harga, Tri Utomo membedakan baju batik untuk kalangan dewasa dan anak-anak.

Ukuran dewasa berharga sekitar Rp 150 ribuan.

Baju batik semarangan untuk pelajar hanya dibanderol Rp 100 ribuan per potong.

Kenaikan penjualan juga dialami pemilik Batik Sri Asih di Plamongan Hijau, Suswahyuni Sri Asih.

Perbedaannya, pemesanan tersebut justru dari kalangan guru.

"Kalau kenaikan penjualan, tetap naik di masa masuk sekolah ini. Tapi yang order ke kami itu dari kalangan guru. Jadi untuk seragam guru-guru," jelas Suswahyuni.

Penjualan batik untuk anak sekolah minim karena di tempatnya hanya menyediakan batik cap maupun tulis yang asli buatan tangan.

Harganya jelas lebih mahal dibanding batik hasil printing.

"Segmen kami menengah ke atas. Kami tetap pertahankan asli buatan tangan. Kalau anak sekolah mayoritas yang dicari asal batik meski printing," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved