Wow, Pakai Sistem Ini Peternak Lele Banjarnegara Tak Perlu Ganti Air Kolam
Udiyono, warga desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara Banjarnegara tak butuh lahan luas untuk budidaya ikan. Ia hanya butuh kolam seluas 4 meter persegi
Penulis: khoirul muzaki | Editor: bakti buwono budiasto
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Udiyono, warga desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara Banjarnegara tak butuh lahan luas untuk budidaya ikan. Ia hanya butuh kolam seluas 4 meter persegi untuk ditanami 5 ribu bibit ikan lele.
Tentu saja, kolam Udiyono bukan seperti kolam lele pada umumnya.
Kolam terpal bulat berdiameter 170 cm dengan rangka besi buatannya itu biasa disebut bioflok.
Ia memiliki 15 kolam bioflok yang ia pasang di pekarangan rumah.
Masing-masing kolam terhubung dengan selang aerator yang berfungsi untuk melarutkan oksigen ke dalam air.
Ribuan ikan lele bergeliat saat Udiyono menabur pakan ke kolam.
Ikan-ikan itu tetap sehat dan agresif meski air kolam telah berubah hitam.
Beberapa tahun ini, Udiyono dan kelompoknya, Mina Dadi Rejeki mengembangkan budidaya ikan dengan sistem bioflok.
Prinsip kerja bioflok adalah menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah budidaya menjadi gumpalan kecil untuk makanan alami ikan.
"Bioflok prinsipnya adalah manajemen air. Air sebagai habitat ikan harus diperhatikan sehingga tidak malah menjadi racun yang membuat ikan mati,"katanya, Senin (31/7).
Gagasan membuat kolam dengan teknologi bioflok berawal dari keprihatinan sejumlah petani karena usaha budidaya ikan secara konvensional tak menguntungkan.
Harga pakan terus melambung, sementara produktivitas ikan jalan di tempat.
Petani akhirnya lebih sering merugi, atau balik modal saat ikan mencapai panen.
Mereka akhirnya putar otak untuk mengubah metode budidaya hingga akhirnya menerapkan sistem bioflok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kolam-bioflok_20170731_172834.jpg)