Siswa Korban Pemukulan Guru Sebaiknya Segera Pindah Sekolah
Siswa Korban Pemukulan Guru Sebaiknya Segera Pindah Sekolah. News Analysis oleh Dr. Hastaning Sakti, M.Kes.Psi-Psikolog Undip
Penulis: galih permadi | Editor: iswidodo
News Analysis oleh Dr. Hastaning Sakti, M.Kes.Psi-Psikolog Undip
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Korban termenung, sering menangis, dan deg-degan ketika melihat lapangan basket, maka dia benar-benar trauma. Apalagi sampai tidak mau masuk sekolah berarti ada traumatik yang dialami.
Ia tidak merasa nyaman ketika harus menghadapi teman, guru, sekolah, lapangan basket karena memori kejadian akan terus terbentuk. Dia harus setiap hari menghadapi hal-hal yang membuatnya tidak nyaman.
Anak tersebut perlu pendampingan baik dari psikolog, orangtua, guru, kepala sekolah atau teman untuk menghilangkan trauma. Lalu untuk sementara tidak ikut ekstrakurikuler basket, ganti ke ekstrakurikuler lain.
Namun ketika teman sudah ikut mem-bully, solusi terbaik yakni keluar dari sekolah tersebut dan pindah ke sekolah dengan lingkungan baru. Itu lebih baik. Bila anak menghadapi trauma berkepanjangan selama berbulan-bulan, saya pikir tidak sehat. Apalagi dia harus bersekolah tiga tahun lagi. Solusi terakhir selamatkan anak dari sekolah tersebut.
Trauma berkepanjangan bisa menjadi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang kemudian melakukan perilaku menyimpang manakala ia menghadapi itu dan mendapatkan tekanan selama enam bulan.
Trauma healing harus dilakukan. Ia harus dikembalikan kepada dia yang sebenarnya. Keluarga harus mendampingi dan melindungi siswa tersebut. Orangtua bisa menenangkan. Namun trauma healing tidak bisa cepat membutuhkan waktu. Kita saja ketika kaki terluka tidak bisa segera sembuh, karena masih sangat sensitif. (tribunjateng/cetak/gpe)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hastaning-sakti_20170316_124847.jpg)