Breaking News
Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Melihat Kerajinan Tudung Saji dari Bambu di Mandiraja, Banjarnegara

Mereka menghadap bambu yang telah dipotong kecil-kecil dan rapi, juga tali dari pelepah tanaman untuk mengikat anyaman

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Suwarso menunjukkan produk jadi aneka kerajinan bambu di dusun Bantar desa Kertayasa Mandiraja 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Ada pemandangan berbeda di perumahan dusun Bantar, desa Kertayasa, Mandiraja. Setiap pagi, hampir setiap ibu rumah tangga hingga remaja putri duduk meringkuk di depan rumah.

Mereka menghadap bambu yang telah dipotong kecil-kecil dan rapi, juga tali dari pelepah tanaman untuk mengikat anyaman.

Turyati, warga RT 2 RW 2 Dusun Bantar Kertayasa mengerahkan cukup tenaga untuk membuat tudung saji. Ia menahan ujung kerangka dengan kaki agar kencang saat dianyam. Sementara tangannya sibuk menutup badan kerangka dengan irisan bambu, lalu menalinya kuat-kuat hingga bentuk saji sempurna.

Perajin menganyam tudung saji di rumahnya dusun Bantar desa Kertayasa Mandiraja Banjarnegara
Perajin menganyam tudung saji di rumahnya dusun Bantar desa Kertayasa Mandiraja Banjarnegara (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

"Hampir setiap ibu rumah tangga di sini buat kerajinan. Lumayan bisa membantu suami dan sekolahkan anak,"katanya, Senin (11/9)

Dalam seminggu, Turyati mengaku bisa membuat sekitar 30 tudung saji. Alat rumah tangga itu dibeli oleh tengkulak yang beberapa hari sekali mendatangi rumah para pengrajin.

Tudung saji berukuran jumbo dihargai sekitar Rp 18 ribu oleh tengkulak. Sementara yang berukuran sedang dibeli seharga berkisar Rp 15 ribu .

Tudung saji karya perempuan desa ini sudah diakui mutunya. Tidak sembarang bambu rupanya bisa dipakai membuat tudung saji. Para pengrajin biasa memakai bambu wulung karena dianggap memiliki beberapa kaunggulan.

Mereka membelinya seharga Rp 17 ribu perbatang dari pasar bambu yang ada di desa. Pasar itu mendadak muncul seiring dengan tingginya permintaan bambu dari para pengrajin di desa.

"Bahan baku tidak jadi kendala. Karena selalu tersedia di pasar yang disuplai dari daerah luar,"katanya

Bambu bahan itupun tak langsung bisa dipakai untuk membuat tudung saji. Batang bambu terlebih dulu direndam ke dalam kolam. Perendaman bambu hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan itu merupakan cara tradisional untuk mengawetkan bahan.

Bambu rendaman juga dipercaya lebih tahan terhadap serangan hewan pengerat, serta tak gampang lapuk.

Selain tudung saji, para pengrajin desa juga membuat perlengkapan rumah tangga berbahan bambu lain, di antaranya tampah.

Mulanya, tampah ini menjadi kerajinan tertua di Desa Kert

Suwarso menunjukkan produk jadi aneka kerajinan bambu di dusun Bantar desa Kertayasa Mandiraja
Suwarso menunjukkan produk jadi aneka kerajinan bambu di dusun Bantar desa Kertayasa Mandiraja (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

ayasa. Keahlian membuat tampah didapat secara turun temurun oleh warga.

Tampah menjadi satu di antara kerajinan alat dapur tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran produk modern pabrikan.

Berbeda dengan tudung saji, bahan untuk membuat tampah adalah bambu tali yang harganya lebih murah. Sebuah tampah jadi ukuran sedang dijual ke tengkulak seharga Rp 15 ribu.

"Dari nenek moyang dulu sudah buat tampah, turun temurun. Kerajinan taji lebih baru menyesuaikan permintaan,"katanya

Kepala Dusun Bantar Kertayasa Suwarso mengatakan, terdapat sekitar 780 Kepala Keluarga (KK) di desa Kertayasa yang satu atau beberapa anggota rumah tangganya berprofesi sebagai pengrajin bambu.

Kebanyakan kerajinan yang dibuat adalah perlengkapan rumah tangga, antara lain tudung saji, wakul, tampah, hingga besek atau piti.

Menurut Suwarso, industri kerajinan bambu untuk perlengkapam dapur tidak ada matinya. Ia tetap memiliki pasar tersendiri di tengah persaingan pasar global yang melahirkan banyak produk perlengkapan rumah tangga berbahan sintetis.

Selain Jawa, pemasaran kerajinan bambu dari desa Kertayasa hingga sampai ke luar Jawa, antara lain Kalimantan dan Sulawesi.

"Dari segi permintaan pasar tak ada masalah. Alat dapur tradisional berbahan bambu tetap diminati,"katanya

Tingginya permintaan dan produktivitas kerajinan bambu di wilayah itu berhasil menghidupkan sebuah pasar khusus menampung kreasi pengrajin di desa Kertayasa.

Pasar tiban yang buka dua kali dalam sepekan itu merupakan ajang transaksi bagi para pengrajin dengan tengkulak dari luar daerah yang datang untuk kulakan.

Meski permintaan produk tinggi, posisi tawar pengrajin rupanya tetap lemah. Suwarso menyayangkan, pengrajin selama ini lebih banyak dipermainkan oleh tengkulak lantaran posisi tawar yang rendah.

Musim kemarau seharusnya menjadi berkah bagi pengrajin lantaran permintaan meningkat yang berpengaruh terhadap kenaikan harga barang. Namun, berkah itu rupanya hanya dinikmati oleh tengkulak.

Mereka biasa memborong barang pengrajin saat musim penghujan dengan harga rendah, lalu menyimpannya sebagian di gudang hingga kemarau datang.

"Oleh tengkulak nanti ditahan dan dijual saat kemarau. Kemarau permintaan tinggi dan transportasi pengiriman lebih mudah karena tidak terkendala hujan,"katamya

Pengrajin, menurut dia, merupakan ujung tombak produksi yang mestinya punya andil dalam menentukan harga.
Pengrajin bisa ikut bersiasat agar ikut merasakan untung yang selama ini lebih banyak dinikmati tengkulak.

Masalahnya, kata Suwarso, para pengrajin di desa Kertayasa tidak terorganisir dengan baik. Tidak ada parkumpulan atau kelompok yang bisa menjembatani masalah mereka.

Di sisi lain, para pengrajin berpenghasilan rendah enggan menyimpan sebagian barang saat permintaan sepi karena terdesak kebutuhan harian.

"Banyak pengrajin terjebak bank harian (rentenir) yang menagih hutang setiap hari. Akhirnya mereka tifak ada pikihan harus segera menjial batang

Di sisi lain, kata Warso, para pengrajin masih susah diajak berinovasi untuk meningkatkan daya jual barang kerajinan mereka. Model barang kerajinan yang mereka buat masih monoton.

Padahal, menurut Warso, jika pengrajin mau sedikit berinovasi, bukan tidak mungkin, harga jual produk mereka lebih tinggi serta permintaan barang ikut meningkat.

"Kerajinan bisa didesain lebih menarik, misal diwarnai atau dibentuk model lain agar lebih memikat pembeli,"katanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved