Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Status Gunung Agung Naik Menjadi Waspada, Warga Dilarang Beraktivitas di Radius 3 Km dari Kawah

PVMBG Badan Geologi menaikkan status Gunung Agung dari level normal ke level waspada. Warga dilarang beraktivitas di radius 3 Km dari kawah gunung.

Tayang:
Penulis: m zaenal arifin | Editor: rika irawati
tagana.kemsos.go.id
KAWAH GUNUNG MERAPI di perbatasan provinsi DIY dan Jawa Tengah.(ILUSTRASI) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, BALI - Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, meningkat lagi. Berdasarkan analisis data visual, instrumental, dan mempertimbangkan potensi ancaman bahaya, PVMBG Badan Geologi menaikkan status Gunung Agung dari Level (Normal) ke Level II (Waspada) terhitung Kamis (14/9/2017) pukul 14.00 WITA.

Rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi di antaranya, masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung dilarang beraktivitas di area kawah dan seluruh area radius 3 km dari kawah gunung, atau pada elevasi 1500 meter dari permukaan laut.

"Terkait kenaikan (status) tersebut, Badan Geologi telah memberitahukan kepala daerah dan instansi terkait," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangannya melalui Whatsapp, Kamis (14/9/2017) malam.

BNPB telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem terkait peningkatan status Waspada Gunung Agung ini. Sosialisasi akan dilakukan kepada masyarakat agar mematuhi rekomendasi.

(Baca: Gunung Agung dan Gunung Kelud Masuk Daftar Sebagai Gunung Berapi Paling Berbahaya di Dunia)

Rencana kontinjensi juga segera disusun untuk merencanakan segala kemungkinan jika ada peningkatan status gunungapi lebih lanjut.

Ia menuturkan, Pos Pengamatan Gunungapi yang berlokasi di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali merekam 7 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 2 - 6 mm, lama gempa 12 - 23 detik.

Kemudian, empat kali gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplitudo 3 - 6 mm dan lama gempa 7 - 13 detik. Satu kali gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplitudo 6 mm, S-P 4.8 detik dan lama gempa 37 detik pada Rabu (13/9/2017).

"Pos pengamatan Gunung Agung mengamati, belum ada perubahan signifikan terkait tinggi dan tebal asap dari kawah dalam kurun waktu 3 bulan terakhir," paparnya.

Ia menambahkan, Badan Geologi melaporkan, berdasarkan informasi dari pendaki pada 13 September lalu, terlihat hembusan solfatara dari dasar kawah yang sebelumnya tidak pernah terlihat sampai periksaan terakhir pada bulan April 2017.

Badan Geologi juga melaporkan data terukur terkait peningkatan status, di antaranya material vulkanik, tingkat kegempaan dan citra termal.

Pada indikator gempa Vulkanik Dalam (VA) mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi yang diakibatkan tekanan fluida magmatik dari kedalaman mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 10 Agustus 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara 3 mm sampai 10 mm.

(Baca: Ngeri, Bule Jerman Ini Jatuh ke Kawah Gunung Agung di Ketinggian 2.843 mdpl)

Ia mengatakan, Gunung Agung memiliki sejarah aktivitas erupsi yang dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan yang berada pada kawah. Masih dilihat pada sejarah erupsi, potensi ancaman berupa bahaya berupa jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava.

"Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dapat tersebar di sekeliling Gunung Agung tergantung pada arah angin. Dengan kondisi aktivitas seperti saat ini, apabila terjadi letusan, potensi bahaya diperkirakan masih berada di area tubuh Gunung Agung yang berada di lereng Utara, Tenggara, dan Selatan gunung," jelasnya.

Sementara itu, ancaman bahaya secara langsung berada di daerah utara gunung, seperti di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, Sungai Tukad Bumbung di Tenggara, Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah di Selatan Gunung Agung berpotensi terhadap bahaya aliran piroklastik dan lahar. Jika erupsi efusif berupa aliran lava Gunung Agung.

Badan Geologi mencatat, Gunung Agung yang meletus pada 12 Maret 1963 berskala VEI 5, dengan tinggi kolom erupsi setinggi 8-10 km di atas puncak Gunung Agung dan disertai oleh aliran piroklastik yang menghancurkan beberapa desa di sekitar. VEI merupakan skala pengukuran relatif letusan gunung.

"Gunung Agung dengan VEI 5 dideskripsikan mengalami erupsi sangat besar. Saat itu, letusan menewaskan sekitar 1.100 jiwa yang sebagian terkena aliran lahar," tandasnya.

(Baca: Terdengar Suara Guguran di Lereng Merapi, Apa yang Terjadi?)

Aktivitas Gunung Agung selesai pada tanggal 27 Januari 1964 dan menyisakan kawah dengan diameter 500 meter. dan kedalaman hingga 200 meter.

Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing pada hal-hal yang menyesatkan. Letusan gunung bersifat slow on set.

"Artinya, tidak seketika meletus namun selalu mengeluarkan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik sebelumnya sehingga PVMBG dapat menetapkan rekomendasi lebih lanjut," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved