HEBAT, Slamet Bikin Gitar Berbahan Limbah Kayu Kini Laris Manis di Nusantara
Slamet Joko Santoso (38) menekuni pembuatan alat musik petik meski ilmu itu diraih secara otodidak. Dan hingga kini sudah 25 tahun dia geluti.
TRIBUNJATENG.COM, AMBARAWA - Slamet Joko Santoso (38) menekuni pembuatan alat musik petik meski ilmu itu diraih secara otodidak. Ketika dia masih jadi pelajar SMP, hobi main gitar terkendala maka dia wujudkannya dengan membuat sendiri peralatan tersebut. Dan hingga kini sudah 25 tahun dia geluti.
Kini gitar buatannya telah merambah pasar di kota-kota di Indonesia. Joko tampak telaten membuat gitar-gitar berbagai ukuran.
"Saya belajar otodidak, dari hobi sebenarnya. Dulu juga kalau mau cari gitar itu susah, makanya saya belajar sendiri, coba-coba membuat gitar sendiri. Bahan yang digunakan ya pakai limbah kayu yang ada di rumah," kata Slamet ditemui tribunjateng.com di pertokoan Jl. Tentara Pelajar 99, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Selasa (12/9/2017).
Dua toko yang Joko tempati merupakan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM), terletak hanya beberapa puluh meter dari Goa Maria Kerep Ambarawa.
Joko memberi label usahanya “O’ox Guitar Maker”. O’ox merupakan nama panggilan akrab yang adiknya berikan kepada Slamet semasa kecil.
Selain menjual gitar, O’ox Guitar Maker juga menyediakan pembuatan alat musik petik lainnya seperti biola, cello, dan bas.
Saat ini, dengan laba bersih sekitar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta, Joko memliki dua karyawan tetap dan satu karyawan borongan.
Salah satu karyawannya juga sedang dalam proses belajar membuat gitar.
Menurut Joko, pasar gitar Indonesia banyak yang salah kaprah. Terkadang konsumen maupun pengrajin gitar lain mecampuradukkan istilah custom, ori, dan replika.
Salah kaprah ini ia anggap fatal dan perlu diperbaiki, lantaran Joko sendiri mengaku memiliki ciri khas pembuatan gitar custom. Dia juga sering meluruskan kesalahan pelanggan yang memesan di tokonya.
"Tentang istilah-istilah ini banyak yang salah. Custom itu artinya membuat gitar sesuai keinginan kita, jika kita ingin custom gitar dengan merk Ibanez misalnya, ya kita langsung ke Ibanez. Kalau ingin yang bajakan (replika) merk Ibanez itu baru bisa dibuat di Indonesia," terangnya.
Ketika disuguhkan pertanyaan mengenai mengapa memilih untuk membuat gitar custom, Joko menjawab bahwa ia ingin membuat sejarah dengan karyanya.
“Kita kan punya brand sendiri, OQ namanya. Nah, saya ini ingin menciptakan sejarah. Saya sebenarnya bisa hidup hanya dengan membuat gitar replika, maupun servis-servis begitu, namun saya ingin menciptakan sebuah sejarah baru, biar anak-anakku enak. Meninggalkan nama," jawabnya.
Bukti nyata dari usaha untuk mewujudkan mimpinya tersebut adalah anaknya yang sekarang sedang duduk di bangku kelas 3 SD. Dia telah dilatih oleh Joko untuk mengenal proses pembuatan gitar sejak ia berumur lima tahun.
Tak jarang usaha yang ia rintis ini mengalami kendala. Terkadang ia kesulitan mendapatkan bahan yang ia butuhkan untuk membuat gitar seperti kayu. Untuk bahan bakunya, gitar buatan O’ox Guitar Maker membutuhkan kayu-kayu seperti mahoni, cyprus, rosewood, alder, maple dan ash yang sebagian besar ia harus dapatkan dari Kanada. (tribunjateng/samuel ade/magang jurnalistik UKSW)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/slamet-bikin-gitar-barbahan-limbah-kayu-di-pertokoan-di-ambarawa_20170924_114405.jpg)