Sabtu, 30 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

FOCUS

Satir Sentir

Sentir jika ditranslate dalam Bahasa Indonesia adalah alat untuk menerangi atau lampu kecil dengan bahan bakar minyak atau pelita.

Tayang:
Penulis: sujarwo | Editor: iswidodo
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sentir jika ditranslate dalam Bahasa Indonesia adalah alat untuk menerangi atau lampu kecil dengan bahan bakar minyak atau pelita. Alat penerang remang-remang ini “sangat berjasa” sebelum listrik masuk desa. Ada yang memaknai sentir melambangkan kesederhanaan, namun sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Penyanyi campursari Didi Prasetyo, yang lebih dikenal Didi Kempot, terinspirasi sentir dengan mencipta lagu Sentir Lengo Potro. Langgam Jawa ini antara lain bercerita tentang warung dengan penerang sentir, dan penjualnya berparas cantik. Bikin pembeli (pria) terpincut.

Sentir lengo potro/Sing dipikir kok ora rumongso./Tiwas ngesir ora biso nggowo. (sentir dengan bahan bakar minyak tanah/yang dipikir tidak merasa/ Telanjur naksir tapi tidak bisa memilikinya),. Begitu petikan lirik langgam jawa yang dirilis tahun 2002 tersebut.

Dalam bahasa Prancis, sentir berarti merasa. Seolah nyambung dengan lagu Didi Kempot, utamanya bab rasa. Pun mengingatkan kata yang jika diucap selintas terdengar mirip tapi beda arti, yaitu satir. Kata yang bisa juga terkait rasa, tentang ungkapan hati.

Satir atau satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satir biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Istilah ini berasal dari frasa bahasa Latin satira atau satura (campuran makanan).

Belakangan ini satir dipilih sebagian masyarakat untuk menunjukkan keprihatinan, khususnya di media sosial, menyusul dibebaskannya Ketua DPR RI Setryo Novanto dari praperadilan kasus Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP). BBC Indonesia mencatat Tagar #ThePowerofSetyaNovanto paling populer dan disinggung hampir 15.000 kali sampai Minggu (1/10/2017), sebagian besar berisi guyonan satir.

Maklum, orang nomor satu di lembaga wakil rakyat yang populer dengan sebutan Setnov itu sebelumnya juga lepas dari kasus Bank Bali, dan kasus Papa Minta Saham. “SetNov Masuk angin . Angin nya yang dikerokin . Papa Setnov bangun kesiangan, mataharinya yg minta maaf... Papa emang begitu.. “ Begitu antara lain satir di medsos dengan tagar #ThePowerOfSetnov.

Satir-satir itu memang menghibur, tapi sekaligus menyimpan kegetiran. DPR pada dasarnya menentukan nasib bangsa ke depan lewat aturan- aturan yang mereka buat. Sementara sang ketua kalau terbukti secara hukum bersalah dalam kasus dugaan korupsi e-KTP, mengundang tanya, bagaimana dengan yang lain? Masih punya wakilkah rakyat negeri ini?

Satir-satir itu pun mengingatkan pentas teater Republik Cangik dengan sutradara Teater Koma Nano Riantiarno di Gedung Kesenian Jakarta pada 13-22 November 2014 lalu. Bagaimana perilaku anggota dewan saling berebut kekuasaan digambarkan dengan simbol puluhan monyet yang saling berkelahi.

Akhirnya, sentir dan satir itu terkesan jadi nyambung. Jika para wakil rakyat terus mengundang satir, masa depan negeri ini bak sentir, masih remang-remang. Dan, makin getir jika seperti lagunya Didi Kempot, "Sentir lengo potro. Sing dipikir ora rumongso...(tribunjateng/sujarwo)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved