FOCUS

Butuh Mesin Sensor dan Perilaku Individu

Butuh Mesin Sensor dan Perilaku Individu. Nah, kalau google saja bisa dijadikan tempat 'aman' untuk menyimpan film porno, yang bisa diakses siapa saja

Butuh Mesin Sensor dan Perilaku Individu
tribunjateng/bram
ADI Prianggoro wartawan tribun jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Google Drive adalah layanan penyimpanan yang dimiliki oleh google. Selain bisa membuat dan berbagi data serta dokumen, pemakaian gogle drive bisa menguntungkan pemakainya yaitu bisa mengakses data file dari mana saja di rumah ataupun di kantor dengan terhubung dengan internet pastinya.

Misalnya kita membuat dokumen baru, spreadsheet, dan presentasi secara instan. Lewat google drive kita bisa mengedit dokumen dengan kolega bersama-sama pada waktu yang sama. Manfaat lain dari google drive yaitu mulai dari untuk menyimpan catatan, foto, dan masih banyak lainnya.

Bagian yang paling membuat miris adalah ketika google drive dimanfaatkan untuk menyimpan film-film porno. Ironisnya lagi, akun google drive tertentu yang dipakai untuk menyimpan film porno itu dapat diakses secara terbuka oleh siapa saja pengguna internet.

Nah, kalau google saja bisa dijadikan tempat 'aman' untuk menyimpan film porno, yang bisa diakses siapa saja, bagaimana kira-kira pemerintah bisa membendung konten pornografi bagi masyarakat pengguna gawai/gadget?

Ini menjadi tugas berat bagi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Baru-baru ini, Kominfo merilis telah membeli sebuah sebuah mesin sensor konten negatif di internet.

Harga mesin tersebut sekitar Rp 194 miliar dan rencananya akan dioperasikan Januari 2018. Pengadaan mesin sensor ini dilelang dan dimenangkan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI).

Sesuai namanya, mesin ini akan dipakai Kemenkominfo untuk menyaring Internet Indonesia dari konten-konten bermuatan negatif, di antaranya yang utama adalah pornografi. Menurut data yang dirilis Kominfo, saat ini ada sekitar 28 sampai 30 juta situs pornografi di Internet. Dari semua itu baru 700 ribu situs yang sudah diblokir Kemkominfo. Dengan adanya mesin sensor ini diharapkan semua situs pornografi tersebut bisa tersaring.

Tak menutup pula kemungkinan nantinya Kemkominfo akan bekerjasama dengan google untuk membendung konten-konten pornografi, termasuk film-film porno yang tersimpan di google drive. Untuk efek jera, pemerintah lewat unit cyber crime Polri mestinya menjerat pelaku yang mengunggah dan menyebarkan film porno. Mereka bisa dijerat Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), ancaman pidana terkait konten pornografi hanya ditujukan untuk pihak yang menyebarkan.

Memang tidak mudah membendung peredaran pornografi di internet. Pengawasan pornografi di internet wajib dilakukan karena sangat meresahkan, terutama bagi anak-anak sekarang yang sudah akrab dengan gawai dan internet.

Meski demikian, pengawasan pornografi tidak boleh dilakukan dengan melawan teknologi karena tidak ada yang bisa melawan teknologi. Meminimalisir dampak negatif pornografi harusnya dimulai dari perilaku individu sendiri. (tribunjateng/adi prianggoro)

Penulis: adi prianggoro
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved